Akhirnya, Idulfitri dalam perspektif Cak Nur mengajak kita untuk menatap Iran bukan sebagai “orang asing” atau “liyan”, melainkan sebagai rekan seperjalanan dalam membangun peradaban Islam yang modern namun tetap berakar pada nilai ilahi.
Kemenangan kita di hari raya ini menjadi sempurna ketika kita mampu melapangkan dada, menghapus kebencian mazhab, dan berdiri bersama bangsa-bangsa yang sedang memperjuangkan martabatnya.
Inilah esensi dari Masyarakat Madani yang lintas batas: sebuah komunitas global yang disatukan oleh komitmen pada keadilan, kemerdekaan, dan fitrah kemanusiaan yang suci. (***)
Pejaten, 19 Maret 2026
Pukul : 15 : 21
Solidaritas sebagai Implementasi Kesalehan Sosial
Cak Nur selalu mengkritik “kesalehan ritual” yang egois. Bagi beliau, puasa yang berhasil adalah puasa yang melahirkan kepekaan sosial. Dalam skala global, kepekaan ini mewujud dalam bentuk solidaritas internasional.
Masyarakat Madani yang dicita-citakan Cak Nur adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi hukum, dan memiliki rasa kemanusiaan yang universal.
Solidaritas terhadap Iran—terutama dalam menghadapi ketidakadilan ekonomi akibat isolasi internasional—adalah ujian bagi “Kesalehan Sosial” kita.
Idulfitri mengajarkan bahwa tidak ada kemerdekaan yang sejati selama saudara kita di belahan bumi lain masih terbelenggu oleh ketidakadilan sistemik.
–000–
Epilog : Merajut Peradaban yang Beradab
Akhirnya, Idulfitri dalam perspektif Cak Nur mengajak kita untuk menatap Iran bukan sebagai “orang asing” atau “liyan”, melainkan sebagai rekan seperjalanan dalam membangun peradaban Islam yang modern namun tetap berakar pada nilai ilahi.
Kemenangan kita di hari raya ini menjadi sempurna ketika kita mampu melapangkan dada, menghapus kebencian mazhab, dan berdiri bersama bangsa-bangsa yang sedang memperjuangkan martabatnya.
Inilah esensi dari Masyarakat Madani yang lintas batas: sebuah komunitas global yang disatukan oleh komitmen pada keadilan, kemerdekaan, dan fitrah kemanusiaan yang suci. (***)






Komentar