oleh

GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM


​Ada baris sejarah yang selalu ditulis dengan tinta emas, tetapi ada pula yang dipahat dengan irama, peluh, dan kecintaan yang sunyi pada tanah air.

Guruh Soekarnoputra adalah kisah tentang yang kedua: seorang anak zaman yang melangkah di antara bayang-bayang raksasa ayahnya, lalu menenun jalannya sendiri lewat musik, tarian, dan kesetiaan pada cita-cita kerakyatan.

Baca Juga  MK Harus Berani Anulir Putusan Nomor 90 — Oleh: Muslim Arbi/Direktur Gerakan Perubahan Indonesia

​Jika Bung Karno menggerakkan jutaan massa dengan retorika yang membakar dari atas podium, Guruh menyentuh jiwa bangsa dari balik panggung seni.

Melalui “Swara Maharddhika,” ia tidak sekadar menyajikan pertunjukan tarian atau gubahan nada; ia sedang memancangkan kembali identitas keindonesiaan.

Di saat banyak anak muda berpaling pada kebudayaan Barat, Guruh membawa gamelan, kain Nusantara, dan gerak tari tradisi menjadi sesuatu yang anggun, megah, sekaligus membanggakan.

Baca Juga  FREE PALESTINE, STRUGGLE FROM WITHIN: Strategi Diplomasi Prabowo

​Bagi Guruh, Marhaenisme bukan sekadar teori ekonomi-politik yang berdebu di dalam perpustakaan. Ia menghidupkan Marhaenisme sebagai napas kebudayaan.

Bahwa mencintai wong kecil berarti juga menghargai akar budaya tempat mereka berpijak.

Lagu-lagu ciptaannya—mulai dari Melati Suci hingga Zamrud Khatulistiwa—adalah muatan rasa tentang tanah air yang elok, merdeka, dan bermartabat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *