oleh

RUNTUHNYA INTEGRITAS KAMPUS — Bercermin dari Kasus Rektor Unsoed


​Kampus seharusnya menjadi tempat di mana mahasiswa belajar tentang integritas bukan dari hafal teori-teori sosiologi atau etika di ruang kuliah, melainkan dari keteladanan para pemimpinnya.

Ketika seorang rektor mengenakan “rompi oranye,” kerugian terbesar yang ditanggung bangsa ini bukanlah kerugian finansial semata, melainkan bangkrutnya keteladanan moral.

​Bagi sivitas akademika Unsoed, hari-hari ke depan tentu bukan masa yang mudah. Berjalan dengan almamater kebanggaan di tengah terpaan sinisme publik membutuhkan ketegaran tersendiri.

Baca Juga  Rudin Tamsil Linrung: Jembatan Istana dan Oposisi — Tony Rosyid : Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Namun, proses belajar, riset, dan pengabdian tidak boleh berhenti.

Kampus harus tetap bernapas, dan para dosen harus terus menyalakan obor akal sehat di tengah kegelapan moral yang melanda para elitnya.

​Peristiwa di Purwokerto ini harus dibaca oleh seluruh pimpinan perguruan tinggi di Indonesia sebagai peringatan serius.

Reformasi birokrasi kampus bukan lagi pilihan, melainkan harga mati.

Baca Juga  Jacob Ereste : Semoga Denny Ja Foundation Mampu Mengangkat Derajat & Marwah Bangsa Indonesia Dalam Pergaulan Budaya Dunia

Sudah saatnya sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru dibersihkan dari segala bentuk intervensi gelap, transparansi keuangan dibuka seluas-luasnya kepada publik, dan akuntabilitas institusi dikembalikan pada jalurnya yang suci.

​Sebab, jika menara gading tempat kita menitipkan masa depan bangsa ini telanjur runtuh oleh kerakusan, dari mana lagi kita bisa berharap lahirnya generasi yang bersih, jujur, dan berkeadilan? Wallahu’alam(***)

Baca Juga  Melemahnya Trust dan Tingginya Resistensi Politik Istana — Oleh Tony Rosyid : Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa


Pejaten Barat, 21 Agustus 2026
Pukul : 15:12

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *