“Manusia tidak mencatat waktu: waktu-lah yang mencatat manusia, lalu menuliskan sejarah di atas wajah dan ingatan kita.” (Milan Kundera)
—
WAKTU, konon, adalah pencuri yang paling sabar. Ia merayap tanpa suara, mengikis warna dari dinding-dinding tua, dan menorehkan garis-garis halus di wajah setiap manusia.
Tak ada yang luput. Bahkan para kaisar, penyair, dan ratu kecantikan pun pada akhirnya harus bertekuk lutut di bawah titah sang waktu.
Saya tiba-tiba terpaku menatap dua foto yang dijajarkan—tahun 1965 di sebelah kiri, dan tahun 2026 di sebelah kanan.
Waktu seolah berhenti sejenak, termangu di hadapan seorang perempuan bernama Ratna Sari Dewi Soekarno.
Di foto pertama, pada tahun yang bergolak itu, wajahnya adalah representasi dari sebuah fajar.
Ada ketegasan oriental yang berpadu dengan senyum misterius, menatap masa depan republik yang sedang gamang di ujung kebinasaan dan harapan.
Di foto kedua, enam puluh satu tahun kemudian, rambutnya mungkin telah memutih dan disanggul megah, garis wajahnya telah diukir oleh pengalaman hidup yang panjang.
Tetapi tatapan mata itu—tajam, berjarak, sekaligus memikat—tetap sama.
–000–
Ada apa dengan wajah manusia?









Komentar