oleh

Refleksi Kemerdekaan ke-81 RI: Menagih Keadilan di Tanah Kaya Maluku Utara — Oleh: A.A Hoda


Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia seharusnya menjadi momen selebrasi bagi seluruh rakyat. Namun bagi masyarakat Maluku Utara, riuk pikuk perayaan ini menyisakan ironi yang mendalam. Di tengah dentuman narasi sukses hilirisasi dan lonjakan pertumbuhan ekonomi daerah yang kerap dibanggakan di panggung nasional, ada kenyataan pahit yang terus terabaikan: kemiskinan yang stubborn dan kesenjangan ekonomi yang kian menganga.

Baca Juga  Mari Menikmati Piala Dunia Tanpa Terjerumus Judi

Secara angka statistik, Maluku Utara sering dipotret sebagai bintang ekonomi baru berkat limpahan tambang nikel. Namun, pertumbuhan ekonomi berdigit ganda tersebut nyatanya tak meretas jalan kesejahteraan bagi warga lokal. Ekonomi bergerak cepat, tetapi jalurnya melompati rakyat kecil. Hasil bumi dikuras, tetapi surplusnya melayang ke luar kawasan, meninggalkan warga lokal sebagai penonton di tanah kelahirannya sendiri.

Baca Juga  CATATAN RINGAN : SEMI FINAL PILDUN 2026 ARGENTINA VS INGGRIS FINAL DINI SARAT SENSASI

Kesenjangan ekonomi yang terlalu lebar ini tercermin jelas dalam kehidupan sehari-hari:
• Kontras Hilirisasi vs Kesejahteraan Real: Kawasan industri tambang berdiri megah dengan nilai investasi triliunan rupiah, sementara kantong-kantong kemiskinan di sekitar wilayah tambang dan pelosok kepulauan tetap stagnan.
• Akses Layanan Dasar yang Minim: Di saat ekonomi makro melambung, harga bahan pokok lokal tetap tinggi, akses kesehatan berkualitas sulit dijangkau, dan fasilitas pendidikan di pulau-pulau terpencil jauh dari kata layak.
• Sektor Domestik Terpinggirkan: Sektor pertanian dan perikanan—yang menjadi tumpuan hidup mayoritas warga Maluku Utara—kurang mendapat insentif dan perlindungan yang memadai, kalah telak dibanding karpet merah yang digelar untuk industri ekstraktif.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *