Kampus seharusnya menjadi tempat di mana mahasiswa belajar tentang integritas bukan dari hafal teori-teori sosiologi atau etika di ruang kuliah, melainkan dari keteladanan para pemimpinnya.
Ketika seorang rektor mengenakan “rompi oranye,” kerugian terbesar yang ditanggung bangsa ini bukanlah kerugian finansial semata, melainkan bangkrutnya keteladanan moral.
Bagi sivitas akademika Unsoed, hari-hari ke depan tentu bukan masa yang mudah. Berjalan dengan almamater kebanggaan di tengah terpaan sinisme publik membutuhkan ketegaran tersendiri.
Namun, proses belajar, riset, dan pengabdian tidak boleh berhenti.
Kampus harus tetap bernapas, dan para dosen harus terus menyalakan obor akal sehat di tengah kegelapan moral yang melanda para elitnya.
Peristiwa di Purwokerto ini harus dibaca oleh seluruh pimpinan perguruan tinggi di Indonesia sebagai peringatan serius.
Reformasi birokrasi kampus bukan lagi pilihan, melainkan harga mati.
Sudah saatnya sistem seleksi penerimaan mahasiswa baru dibersihkan dari segala bentuk intervensi gelap, transparansi keuangan dibuka seluas-luasnya kepada publik, dan akuntabilitas institusi dikembalikan pada jalurnya yang suci.
Sebab, jika menara gading tempat kita menitipkan masa depan bangsa ini telanjur runtuh oleh kerakusan, dari mana lagi kita bisa berharap lahirnya generasi yang bersih, jujur, dan berkeadilan? Wallahu’alam(***)
—
Pejaten Barat, 21 Agustus 2026
Pukul : 15:12









Komentar