ADA kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti, saat angin laut berembus dari tanah “Angin Mamiri” melewati celah-celah Bumi fagogoru.
Ketika membaca kabar Al Yasin Ali telah berpulang. Kita mendadak diingatkan betapa fana panggung yang gaduh ini.
Manusia, kata para penyair, adalah peziarah yang singgah sebentar untuk menuliskan beberapa kalimat di atas pasir sebelum ombak datang menghapusnya.
Dan Al Yasin Ali telah menulis kalimat-kalimat itu dengan caranya sendiri, panjang, berliku, dan diwarnai pelbagai warna kekuasaan.
Dari Weda yang tenang, menyeberangi lautan menuju bangku sekolah teknik di Ambon, melompat ke Makassar, merangkak di lorong-lorong birokrasi pekerjaan umum.
Hingga akhirnya duduk di kursi bupati (dua) periode dan wakil gubernur, lintasan hidupnya adalah sebuah potret tentang bagaimana nasib mempertemukan seorang anak kampung dengan sejarah.
–000–
Kekuasaan, kita tahu, tidak pernah steril dari debu. Ia adalah medan pergulatan di mana manusia sering kali diuji batas-batas kesabarannya.
Di satu sisi, ada janji-janji kesejahteraan yang harus ditepati kepada rakyat di kepulauan yang terpencar; di sisi lain, ada keterbatasan fiskal, tekanan politik, dan benturan kepentingan yang tidak pernah ada habisnya.









Komentar