Oleh: Ismail Ibrahim, M.Sos/Alumni S-2
Universitas Jenderal Soedirman
Di era modern, hasrat manusia tidak lagi terbatas pada pemenuhan kebutuhan pokok, melainkan juga dipengaruhi oleh konsumerisme yang membentuk identitas pribadi melalui media sosial.
Jejak hasrat dan pencarian identitas itu berkelana di lorong-lorong digital, menyusuri berbagai platform seperti Google, Instagram, YouTube, dan TikTok.
Aktivitas konsumsi di e-commerce seperti di Shopee dan Tokopedia tak lagi sekadar jual beli, melainkan menjelma di panggung tempat hasrat dan jati diri dipertontonkan, seperti kebutuhan akan pakaian trendi, gadget terbaru, hingga aksesori yang menunjang citra diri.
Bahkan, barang yang hanya dilihat telah menjadi referensi gaya hidup minimalis, trendi, dan inspiratif yang mencerminkan hasrat yang tersirat.
Dengan demikian, perkembangan teknologi dan globalisasi tak hanya memudahkan aktivitas, tetapi juga perlahan menata ulang cara manusia memaknai kebutuhan, mengejar keinginan, dan memahami jati dirinya.
***
Fenomena sosial ini akibat globalisasi dan teknologi mengalir deras, menggeser nilai, pola interaksi, dan struktur sosial, sekaligus menyeret berbagai lapisan masyarakat ke arus konsumsi yang digerakkan oleh hasrat dan gengsi, lalu diperkuat oleh gemuruh media sosial.
Perubahan ini bergerak cepat dan meluas, dimana arus globalisasi dan inovasi teknologi menggeser nilai, dan norma pola interaksi, serta struktur menuju pusaran kepuasan dan pemenuhan keinginan yang tiada henti.













Komentar