– Surga yang Terapung di Antara Biru Langit
dan Jernihnya Air.
Oleh: M.Guntur Alting.
—
Enam tahun silam, tepatnya di penghujung 2020. Aku berdiri di atas ‘Dermaga Kayu’ ini. Angin berbisik lembut, menyejukkan sukma.
Di hadapanku, gunung itu berdiri tegak tanpa ragu, Itulah Maitara. Kerucut hijau yang mencuat dari pelukan lautan. Birunya laut bukan sekadar warna, tapi sebuah kedalaman, tempat sejarah rempah terkubur dalam diam dan sunyi.
Teringat jemari yang sering menggenggam lembaran biru uang seribu.–Namun di sini, “presisi” alam jauh lebih “magis” dari cetakan mesin. Garis horisonnya tegas, memisahkan langit yang jernih dan batin yang dingin.
Maitara dan Tidore adalah sepasang kekasih yang tak pernah bertemu. Hanya saling pandang melintasi selat, dipisahkan waktu yang membatu.
Dermaga ini adalah saksi bisu para pengelana, Dari kapal-kapal kayu hingga rindu yang tak kunjung purna.
Menatap Maitara dari Rum adalah tentang melihat diri sendiri. Bahwa manusia hanyalah noktah kecil di hadapan ciptaan Ilahi.
Matahari mulai condong, menyepuh puncak gunung dengan emas.Melepas hari yang lelah, membiarkan segala sesak menjadi lepas.
–000–






Komentar