oleh

Harga Mahal dan Panggung Pencitraan Kepala Daerah Menjelang Ramadhan

Oleh Mukhtar Adam : Ekonom

Ritual menjelang Ramadhan, hari ini di minggu terakhir mejelang Ramadhan, warga memadati pasar dan toko-toko sembaku, membeli persediaan selama Ramadhan, hal yang sama bagi warga Maluku Utara dari pulau kecil hingga pulau besar, dari pejabat hingga kaum miskin perkotaan, sama berjumpa di pasar untuk Ramadhan yang terjaga.

Namun harga di kawal harga di kebutuhan pokok terus melonjak, masa panen pedagang mulai dicatat sebagai laba usaha yang menjanjikan, tak perduli daya beli rakyat, tak perlu data DESIL, tak penting kemiskinan, keuntungan segalanya, diruangan lain para kepala daerah mulai Menyusun scenario menyiapkan peralatan, membentuk jejaring medsos, mengatur narasi, Mempersiapkan anggaran dari APBD, untuk memulai Gerakan Pasar murah, operasi pasar, safari Ramadhan, bantuan fakir miskin, memberi makanan yatim piatu, membagi uang kepada janda dan orang tua jompo, semua disusun dengan rapi dan terus menghitung jejak digital publikasi yang sistemik, untuk kebutuhan pencitraan yang terstruktur.

Baca Juga  MENYEMAI BENIH KESADARAN DI RUANG KELAS

Muzakir Dodaradaga, menyebut fenomena ini sebagai “ritual tahunan panggung kuasa daerah”. Pemerintah baru dianggap hadir jika media datang. Pasar murah baru bermakna jika ada dokumentasi. Bantuan baru dibagikan jika mikrofon dan kamera sudah terpasang di tubuh pejabat. Dalam ritual ini, Gubernur, Bupati, dan Wali Kota tampil layaknya artis, membela kaum miskin di depan layar, tetapi bersembunyi dibalik batu kebijakan yang sesungguhnya

Baca Juga  LONCENG KEMATIAN DI LANGIT TEHERAN

Padahal, di balik panggung itu, persoalan yang dihadapi rakyat jauh lebih mendasar dan lebih kejam, dari skenario harga pangan di desa dan pulau kecil, semakin mahal dan semakin tidak rasional.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *