oleh

MENJEMPUT PULANG JIWA KOTA -Membungkuk Hormat pada Sang Pendahulu

​Haji Burhan bukan sekadar walikota dua periode bagi orang Ternate. Beliau adalah “Arsitek Modernitas.”

“Jika hari ini Anda bisa menikmati senja di pesisir yang tertata, atau berjalan di antara denyut nadi ekonomi yang lebih manusiawi, maka di sana ada sidik jari ideologis beliau.”

Ia adalah pemimpin yang bekerja dengan “imajinasi” seorang pembangun, namun tetap menjaga kerendahan hati seorang putra daerah.

Baca Juga  Puzzle Perdamaian Di Rimba Pala Patani

​Memulangkan jenazah almarhum yang diucapkan di momen HUT Kota adalah sebuah “simbolisme” yang sangat kuat.

Ini seperti sedang menyusun kembali kepingan “puzzle” sejarah yang sempat tercecer di seberang lautan.

Ada sebuah keyakinan yang mengakar di timur: bahwa seorang pejuang haruslah “beristirahat” di tanah yang ia perjuangkan.

Ia harus mendengarkan azan dari masjid yang ia renovasi, dan merasakan hembusan angin dari laut yang ia tata.

Baca Juga  Filsafat, Budaya Hingga Tradisi dan Adat Istiadat Dalam Spiritualitas Yang Maha Luas

​Ada haru yang menyeruak di balik berita ini. Kita membayangkan saat peti jenazah itu mendarat, disambut oleh langit Ternate yang mungkin akan sedikit mendung karena ikut berduka, namun juga lega.

Rakyat yang selama ini hanya bisa mengirim doa ke arah seberang, kini bisa menyentuh tanah makamnya di sini, di rumah sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *