oleh

DI BUMI FAGOGORU, KITA MENENUN DAMAI Di ATAS RETAKAN HATI

Di layar ponsel, konflik terlihat sangat hitam-putih. Kita dipaksa memilih kubu.

“Padahal, di dunia nyata, mereka yang bertikai itu mungkin pernah berbagi rokok di pelabuhan yang sama, atau saling menyapa saat melaut.”

–000–

Negara dan Monopoli Kebenaran

Kapolda membawa pesan yang tegas: hukum harus berdiri tegak tanpa peduli apa agama atau latar belakang pelaku.

Baca Juga  Pencitraan Palsu Adalah Sikap dan Sifat Yang Sombong dan Bodoh

Ini adalah suara “ayah” yang ingin anak-anaknya tidak saling menyakiti. Ketika Wakapolda dan tim Brimob diterjunkan, itu adalah sinyal bahwa negara tidak ingin membiarkan kekerasan menjadi satu-satunya bahasa yang dipahami.

Namun, secara sosiologis, kita tahu bahwa polisi hanya bisa memadamkan apinya.

Akar masalahnya—rasa saling tidak percaya, kecemburuan sosial, atau perebutan ruang hidup di tengah derap industrialisasi—memerlukan penanganan yang lebih dari sekadar penegakan hukum.

Baca Juga  DUNIA DI BALIK AKRONIM -- Dari MBS, MBZ, MBG Timur-Tengah hingga MBG Indonesia

Di balik seragam polisi yang berjaga di Patani Barat, ada harapan besar bahwa aktor-aktor di balik layar segera diungkap.

Mengapa? Karena seringkali konflik horizontal hanyalah panggung yang dipasang oleh mereka yang ingin menangguk untung dari kekacauan.

Masyarakat di akar rumput seringkali hanya menjadi pion yang dikorbankan.

–000–

Menenun Kembali Fagogoru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *