oleh

MENAKAR KOMPAS BARU — Dialektika Transformasi IAIN di Bawah Kendali Dr. Adnan Mahmud, MA

Pertama, Akselerasi Mutu dan Akreditasi. Mutu akademik adalah mata uang universal dalam dunia pendidikan.

Kepemimpinan baru ini harus berani melakukan akselerasi pada penguatan program studi unggulan.

Transformasi ini bukan sekadar urusan administratif borang akreditasi, melainkan upaya sistematis untuk meningkatkan “academic reputation” IAIN Ternate di kancah nasional maupun internasional.

Kedua, Resiliensi Digital. Kita sedang berada di era di mana teknologi bukan lagi pilihan, melainkan infrastruktur eksistensial.

Baca Juga  Menyelamatkan Pulau Halmahera dari Investasi Negara Zionis

Dr. Adnan Mahmud memikul tanggung jawab untuk memastikan bahwa IAIN Ternate tidak tertinggal dalam gerbong digitalisasi. Hal ini mencakup transformasi ekosistem pembelajaran (e-learning), digitalisasi birokrasi, hingga penguatan literasi data bagi seluruh sivitas akademika.

Tanpa resiliensi digital, transformasi hanya akan menjadi jargon tanpa daya guna.

Ketiga, Distingsi Keilmuan Berbasis Lokalitas. Salah satu kekuatan utama IAIN Ternate adalah letak geografis dan sejarah kulturalnya yang kuat.

Transformasi di bawah Dr. Adnan Mahmud harus mampu melahirkan distingsi atau kekhasan akademik yang membedakannya dengan PTKIN lain di Indonesia.

Baca Juga  AROGANSI TRUMP, PEMBUNUHAN KHAMENEI, DAN DINAMIKA TIMTENG

Integrasi antara ilmu keislaman dengan kearifan lokal Maluku Utara (Islam-Kearifan Lokal) harus menjadi produk intelektual yang dipasarkan secara global.

–000–

Estafet Intelektual dan Kepemimpinan Kolaboratif

Seorang nakhoda yang cerdas tidak bekerja sendirian di anjungan. Keberhasilan Dr. Adnan Mahmud akan sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam mengelola “Modal Sosial” (Social Capital) yang ada di dalam kampus.

Baca Juga  Diplomasi Spiritual Untuk Kemaslahatan Seluruh Umat Manusia di Bumi

Kepemimpinan kolaboratif yang inklusif, yang mampu merangkul para guru besar, dosen muda yang progresif, hingga staf kependidikan, adalah kunci utama.

Estafet intelektual ini harus dipandang sebagai proses berkelanjutan. Dr. Adnan Mahmud tidak sedang membangun sebuah pulau terisolasi.

Ia sedang melanjutkan fondasi yang telah diletakkan oleh para pendahulu sembari menyuntikkan energi baru yang lebih adaptif.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *