oleh

MENJEMPUT PAGI YANG TAK LAGI PERIH – Pelajaran dari ‘Gantung Diri’ Yohanes B.Roja

Oleh : M.Guntur Alting

Di sudut Ngada Flores yang rimbun dan sunyi. Seorang bocah menatap langit dengan mata kelabu.

Ia kemudian berdiri di depan cermin retak. Merapikan kerah baju putih yang mulai lusuh menguning. Bukan karena malas mencuci, tapi karena sabun adalah kemewahan.

Di tasnya tak ada roti, hanya ada sisa-sisa mimpi. Dan sebuah tanya yang tak berani ia ucapkan :

“Sampai kapan perut ini harus belajar bersabar ?”

Bocah itu bernama Yohanes Bastian Roja. Ia masih kelas empat, usia dimana mimpi seharus mekar.Bukan usia untuk menakar beratnya nyawa di ujung tali.

Sememtra di ruang Kelas. Guru bicara
tentang Indonesia Emas 2045.Tentang gedung tinggi di Jakarta dan kereta cepat.

Baca Juga  LONCENG KEMATIAN DI LANGIT TEHERAN

Namun di bangku kayu yang dimakan rayap, Yohanes hanya melihat peta kemiskinan di telapak tangannya.

Pelajaran matematika hari itu terasa sangat sulit. Bukan karena angka-angkanya, tapi karena ia sedang menghitung. Berapa hari lagi ibunya bisa bertahan. Atau berapa liter air yang harus ia pikul sebelum petang datang.

Ia bukan kalah oleh rumus matematika. Bukan pula menyerah pada soal-soal ujian yang pelik.
Ia kalah oleh sunyi yang mengepung rumahnya.

Oleh perut yang seringkali lupa cara merasa kenyang. Dan oleh beban yang terlalu raksasa untuk bahu sekecil itu.

“Mama, aku pergi,”

Mungkin itu bisiknya pada angin. Di pohon cengkeh belakang rumah, ia menyimpul mati. Bukan simpul pramuka yang diajarkan di sekolah. Tapi simpul rasa putus asa yang dipintal kemiskinan.

Baca Juga  MENYEMAI BENIH KESADARAN DI RUANG KELAS

Negara sedang sibuk menghitung angka pertumbuhan. Tapi lupa menghitung tetes air mata di pelosok NTT.

Gantung diri bukan sekadar berita di koran lokal. Itu adalah tamparan di wajah para pemangku takhta.

Ketika seorang anak kecil memilih liang lahat, daripada bangku sekolah yang reot dan tak menjanjikan apa-apa.

Apakah kita masih berani menyebut diri “bangsa yang besar ?”

Negara ini gagal, gagal menjagamu tetap hidup untuk melihat matahari esok. Gagal memberikanmu alasan untuk tetap memegang buku dan pensil. Gagal meyakinkanmu bahwa kemiskinan bukanlah dosa waris.

Dan bahwa masa depan tidak selalu berakhir di dahan pohon cengkeh. Kini kau telah tenang, melampaui segala duka.

Baca Juga  Menyelamatkan Pulau Halmahera dari Investasi Negara Zionis

Meninggalkan para peguasa yang masih bersilat lidah di televisi. Membicarakan kesejahteraan di atas karpet merah, sembari mengabaikan nisan-nisan kecil yang terus bertambah.

—000–

Kematian Yohanes bukan sekadar tragedi pribadi. Melainkan hasil dari keretakan sistemik, yang membiarkan seorang anak kecil merasa bahwa tidak ada lagi jalan keluar selain kematian.

Mengapa negara dinilai absen dalam menjaga nyawa Yohanes:

1. Kegagalan Jaring Pengaman Ekonomi

Yohanes hidup di tengah kemiskinan yang ekstrem. Negara memiliki amanat konstitusi untuk “memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar” . Kenyataannya, bantuan sosial seringkali tidak tepat sasaran atau tidak cukup untuk menghilangkan tekanan mental akibat kelaparan dan keterbatasan biaya sekolah di pelosok.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *