2. Absennya Layanan Kesehatan Mental di Daerah Tertinggal
Negara belum mampu menyediakan akses kesehatan mental hingga ke tingkat desa. Di puskesmas atau sekolah-sekolah pelosok, hampir tidak ada psikolog atau guru BK yang terlatih untuk mendeteksi tanda-tanda depresi pada anak.
Yohanes berjuang sendirian melawan pikirannya tanpa ada sistem peringatan dini (early warning system) yang bisa menyelamatkannya.
3. Ketimpangan Akses Pendidikan yang Layak
Meskipun sekolah gratis, biaya hidup dan kebutuhan penunjang pendidikan tetap mencekik keluarga miskin.
Yohanes adalah simbol dari anak-anak yang merasa “sekolah tidak memberi harapan” karena realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan seringkali tidak menjadi tangga keluar dari kemiskinan bagi mereka yang berada di titik paling bawah.
4. Kurangnya Perlindungan Anak Berbasis Komunitas
Negara gagal memberdayakan lembaga perlindungan anak hingga ke tingkat akar rumput.
Tidak ada pendampingan bagi keluarga yang berada dalam kondisi rentan (ekonomi dan sosial), sehingga anak-anak seperti Yohanes seringkali memikul beban orang dewasa yang tidak sanggup mereka tanggung.
5. Fokus Pembangunan yang Terlalu Fisik
Negara sering membanggakan pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, gedung), namun seringkali lupa membangun “infrastruktur jiwa”.
Pembangunan manusia di daerah terpencil seperti Nagekeo seringkali hanya menjadi angka statistik. Sementara jeritan sunyi anak-anak di sana tidak terdengar sampai ke pusat kekuasaan.
–000–
Negara tidak boleh hanya hadir saat pemakaman. Tapi melakukan langkah yang lebih holistik :
1. Transformasi Fungsi Guru BK dan Puskesmas
Menempatkan tenaga psikolog atau konselor mental di setiap Puskesmas di daerah pelosok. Guru di sekolah dasar harus dilatih untuk melakukan “screening” kesehatan mental berkala, bukan hanya menilai nilai akademik.
2. Integrasi Bansos dengan Pendampingan Anak
Bantuan sosial (seperti PKH) tidak boleh hanya berupa uang, tapi harus disertai kunjungan rumah (home visit) secara rutin oleh pekerja sosial.
Memastikan keluarga dengan risiko ekonomi tinggi mendapatkan pendampingan psikososial agar beban orang tua tidak “tumpah” dan menjadi beban mental bagi anak.
3. Program Makan Siang Bergizi di Sekolah Secara Merata
Negara harus menjamin setiap anak di daerah tertinggal mendapatkan setidaknya satu kali makan bergizi di sekolah.
Ini mengurangi beban ekonomi keluarga dan memastikan anak memiliki energi serta keceriaan untuk belajar.
4. Penguatan Jaring Pengaman Perlindungan Anak Desa
Mengaktifkan Satgas Perlindungan Anak hingga tingkat desa/dusun (bukan hanya formalitas).
Menciptakan ruang aman (sanggar atau pusat aktivitas) di desa agar anak-anak memiliki tempat untuk bercerita dan bermain, lepas dari tekanan ekonomi rumah tangga.







Komentar