oleh

MENJEMPUT PAGI YANG TAK LAGI PERIH – Pelajaran dari ‘Gantung Diri’ Yohanes B.Roja

5. Pembangunan yang “Berpusat pada Manusia”

Mengalihkan fokus kebijakan dari sekadar infrastruktur fisik ke investasi kesejahteraan jiwa.

Memasukkan indikator “Kebahagiaan Anak” dalam penilaian keberhasilan pembangunan daerah, bukan hanya angka pertumbuhan ekonomi atau penurunan kemiskinan secara administratif.

Negara harus mampu meyakinkan setiap anak bahwa, sesulit apa pun hidup mereka. Negara ada di belakang merekna untuk memegang tangan mereka, bukan membiarkan mereka memegang tali keputusasaan.

–000–

Pelajaran apa yang bisa dipetik ?

Pertama, Kemiskinan Bukan Sekadar Angka.

Kita belajar bahwa kemiskinan ekstrem bukan hanya soal daya beli, tapi soal penghancuran harapan. Pada anak-anak, kemiskinan bisa memicu depresi berat yang sulit dipahami oleh orang dewasa.

Baca Juga  Ketika Klaim Tanpa Sumber Menjadi Senjata — Menguji Etika Pers dalam Pemberitaan Tambang di Maluku Utara

Kedua, Kesehatan Mental Bukan Kemewahan.

Kita sering menganggap depresi adalah “penyakit orang kota/kaya”. Kasus Yohanes membuktikan bahwa anak-anak di pelosok pun bisa mengalami tekanan mental yang luar biasa akibat beban hidup.

Ketiga, Pendidikan Saja Tidak Cukup.

Sekolah yang gratis tidak berguna jika anak datang dengan perut lapar atau hati yang hancur. Pendidikan harus dibarengi dengan kesejahteraan dan perlindungan psikologis.

Baca Juga  NAKHODA BARU DAN ESTAFET INTELEKTUAL

Keempat, Kepekaan Lingkungan yang Memudar.

Kita belajar bahwa sistem sosial di tingkat desa, tetangga, guru, tokoh masyarakat.Perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak yang menarik diri atau terlihat putus asa.

—000–

Akhirnya, simpul di pohon cengkeh sore itu tidak ada lagi riuh tawa di belakang rumah. Hanya ada angin yang berbisik pada dahan cengkeh yang kokoh.

Yohanes tidak sedang bermain petak umpet, Ia sedang mencari cara untuk berhenti merasa sakit.

Sebuah tali menjadi jembatan terakhirnya. Menghubungkan duka di bumi dengan kedamaian di langit.

Baca Juga  Negara-Negara Teluk Jangan Jadi Pengecut

Bastian Roja abadi dalam duka. Bukan sebagai pemenang olimpiade, tapi sebagai tanda bahaya.

Bahwa di balik angka pertumbuhan ekonomi yang dipuja-puji. Ada anak-anak yang memilih mati karena tak sanggup lagi mendaki.

Negara mungkin punya tentara, punya gedung, punya harta. Namun ia gagal menyediakan satu hal kecil bagi Yohanes. Sebuah alasan untuk tetap ingin bangun besok pagi. (***)

—-
Pejaten Barat, Kamis 5 Februari 2026
Pukul : 20.50

M.Guntur Alting

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *