Ternate, 25 November 2025 — Perayaan Hari Guru Nasional (HGN) ke-80 di Kota Ternate yang seharusnya menjadi momentum penghormatan bagi para pendidik, justru berubah menjadi panggung polemik yang mengundang sorotan publik. Di tengah gegap gempita perayaan, sosok Dr. H. Rizal Marsaoly, SE.MM, Sekretaris Daerah sekaligus Ketua PGRI Kota Ternate, mendadak menjadi “nona manis” yang mengundang kegenitan lawan-lawan politiknya.
Bukan tanpa alasan, kehadiran Rizal Marsaoly sebagai figur sentral dalam perayaan HGN tahun ini dianggap sebagian pihak sebagai bentuk dominasi personal yang menenggelamkan peran Wali Kota dan Wakil Wali Kota. Namun, tudingan ini justru dinilai berlebihan dan sarat muatan politis oleh banyak kalangan.
“Iya kalau Pak Rizal Marsaoly, Sekda sekaligus Ketua PGRI Kota Ternate, yang tampil dominan di perayaan HGN, apa salahnya? Beliau memang ketua organisasi profesi guru, wajar dong kalau tampil di baliho dan memimpin upacara,” ujar Ahmad, warga Kelurahan Kalumata, yang mengaku risih dengan narasi miring yang berkembang.
”Tendensius”tandasnya singkat.
Pernyataan Ahmad seolah mewakili suara publik yang mulai jengah dengan manuver-manuver politik yang membonceng isu pendidikan. Apalagi, kritik tajam yang dilontarkan oleh Saiful Ahmad — yang menyebut HGN 2025 sebagai “mati suri” akibat manuver Rizal — dinilai terlalu tendensius dan personal.
Wakil Ketua PGRI Kota Ternate, Wahda Umasohy, pun angkat bicara. Ia menilai bahwa kritik tersebut tidak berdasar dan justru mengaburkan esensi dari peringatan HGN itu sendiri.
“Perlu diingat, Rizal Marsaoly memang memiliki peran ganda sebagai Sekot dan Ketua PGRI. Ini sah secara organisasi dan birokrasi. Kritik yang diarahkan terlalu personal dan mengabaikan substansi,” tegas Wahda.












Komentar