Menurut Wahda, publikasi yang menonjolkan nama Rizal dalam spanduk dan kegiatan PGRI bukanlah bentuk pengkultusan individu, melainkan bagian dari protokol organisasi profesi. Ia menegaskan bahwa peran Rizal justru memperkuat posisi PGRI dalam memperjuangkan nasib guru, terutama guru honorer yang selama ini kurang mendapat perhatian.
“Ini bukan soal siapa yang lebih menonjol, tapi bagaimana kita menghargai guru. Jangan sampai perayaan HGN justru dijadikan ajang politisasi dan saling jegal,” tambahnya.
Politik di Balik Panggung Guru
Namun, tak bisa dipungkiri, kehadiran Rizal Marsaoly sebagai figur birokrat yang juga aktif di organisasi profesi memang menjadi magnet tersendiri. Di tengah dinamika politik lokal yang mulai memanas menjelang tahun politik, Rizal tampaknya menjadi sosok yang “menggoda” bagi kubu-kubu tertentu.
“Rizal ini seperti ‘nona manis’ di pesta politik Ternate. Banyak yang genit, banyak yang usil. Tapi sayangnya, mereka lupa bahwa yang sedang dirayakan adalah Hari Guru, bukan Hari Gimik Politik,” sindir seorang pengamat politik lokal yang enggan disebutkan namanya.
Ia menilai, serangan terhadap Rizal lebih banyak didorong oleh kecemasan politik ketimbang substansi. “Rizal ini punya modal sosial dan birokrasi yang kuat. Wajar kalau ada yang mulai gelisah. Tapi jangan korbankan guru dan pendidikan hanya demi kepentingan politik sesaat,” ujarnya.
Menjaga Marwah Guru, Menjaga Akal Sehat








Komentar