oleh

JUMAT DALAM TITIAN WAKTU


-000-

​Goenawan Mohamad pernah menulis tentang bagaimana kita kerap berunding dengan waktu. Dan di hari Jumat, perundingan itu terasa paling intens.

​Menjelang sore, ketika bayangan pohon mulai memanjang dan kantor-kantor mulai melonggarkan ikatan birokrasinya, ada desir kelegaan yang merambat di dada.

Orang-orang menyebutnya TGIF. Sebuah ungkapan syukur yang sekuler, tapi jujur.

Baca Juga  Milad 60 Tahun KAHMI: Dari Konflik Internal Menuju Konsensus Kepemimpinan Nasional.

Kita merayakan akhir pekan seolah-olah kita baru saja lolos dari sebuah hukuman penjara yang panjang.

Kafe-kafe mulai penuh, gelak tawa terdengar lebih nyaring, dan rencana-rencana kecil tentang perjalanan ke luar kota mulai dibicarakan di balik meja bar.

​Tetapi, tahukah kau?

Di balik euforia sore itu, selalu ada bayang-bayang yang tipis. Bayang-bayang bernama waktu yang terus berjalan.

Baca Juga  Jacob Ereste : Koalisi Super Jumbo Sangat Diharap Mewujudkan Rekonsiliasi Peradaban Baru Bagi Bangsa dan Negara Indonesia

​Sebab kita tahu, di balik senyum lebar hari Jumat sore, ada Minggu malam yang sabar menanti di tikungan.

Hari di mana ketakutan-ketakutan kecil akan hari Senin akan kembali mengetuk pintu kepala kita.

​Maka, sebelum petang benar-benar turun dan membungkus kota dalam gelap, nikmatilah Jumat ini sebagai sebuah puisi pendek.

Hari di mana kita belajar bahwa hidup tidak melulu soal berlari, tapi juga tentang tahu kapan harus menarik napas dalam-dalam, menengadah ke langit, dan membiarkan waktu berjalan sendiri.

Baca Juga  Ledakan Tambang, Ketergantungan Pangan, dan Kegagalan Kelembagaan Ekonomi Lokal di Maluku Utara

Itulah Jumat pada titian “Sang Wakttu.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *