TERNATE. — Maluku Utara sedang pesta data. Di satu sisi, PDRB tumbuh 19,64% dan industri pengolahan meledak 37,09%. Di sisi lain, jumlah orang miskin justru bertambah 3.040 orang dalam 6 bulan.
Pertanyaannya: angka mana yang benar-benar mewakili nasib warga?
Analisis Dr. Muhammad Kamal membongkar cara baca data yang selama ini dipakai pemerintah. Menurutnya, publik sedang dijejali “ilusi investasi tambang” sementara realitas di dapur warga diabaikan.
Maret ke September: Angka Kemiskinan Naik Diam-Diam
BPS mencatat September 2025, kemiskinan Malut 5,59% dengan jumlah penduduk miskin 74,81 ribu orang.Garis kemiskinan Rp692.592/kapita/bulan.
Masuk Maret 2026, angkanya berubah:
Persentase naik jadi 5,79%.
Jumlah miskin naik jadi 77,85 ribu orang*. Bertambah 3,04 ribu orang.
Garis kemiskinan juga naik jadi Rp724.488/kapita/bulan.
“Perbedaan pembanding Maret-ke-Maret dan September-ke-Maret harus dijelaskan secara terbuka. Secara tahunan persentase turun tipis. Tetapi secara semesteran, persentase dan jumlah penduduk miskin justru meningkat,” tulis Dr. Muhammad Kamal.
Kedua data itu sah. Masalahnya, yang sering dipamerkan hanya angka tahunan yang “lebih cantik”. Padahal kenaikan semesteran menunjukkan tekanan biaya hidup makin berat bagi kelompok rentan.















Komentar