oleh

Dr. Muhammad Kamal: “Maluku Utara Kaya Tambang, Tapi Impor Pangan. Ini Bom Waktu Ekonomi”

-HEADLINE-481 Dilihat

“Daerah penghasil mineral berisiko menjadi pasar konsumsi tanpa menjadi pusat produksi pangan,” tegasnya.

Bukan Petani Malas. Sistemnya yang Sakit
Dr. Kamal menolak narasi menyalahkan petani. Menurutnya, pelaku lokal tidak berkembang karena 4 hal:
1. Tidak ada kepastian pasar.
Tidak ada kontrak dari perusahaan, katering, atau hotel tambang.
1. Modal dan input mahal.
Pupuk, pakan, bibit sulit diakses.
1. Logistik mahal dan rusak.
Terutama untuk sayur dan ikan yang butuh cold storage.
1. Kelembagaan lemah.
Pemerintah, perusahaan, bank, koperasi, petani jalan sendiri-sendiri.

Baca Juga  LIRA MALUT DESAK DPRD TOLAK USULAN PINJAMAN RP1 TRILIUN PEMPROV

“Bank menganggap pangan lokal berisiko karena tidak ada kontrak. Perusahaan bilang standar belum terpenuhi. Petani tidak berani tanam karena takut tidak laku. Akibatnya lingkaran setan,” jelasnya.

Kritik Tajam: Perusahaan Tambang Jangan Hanya Mengekstraksi
Poin paling kritis dari Dr. Kamal: perusahaan tambang harus jadi “pembeli jangkar” ekonomi lokal.

Kebutuhan makan 10 ribu pekerja, asrama, rumah sakit, dan katering tambang itu pasar awal yang sangat potensial. Tapi selama ini pengadaan lebih banyak jatuh ke supplier besar dari luar.

Baca Juga  Muslim Arbi: Amandemen UUD 1945 Jadi Jalan Lahirnya Politik Dinasti, Model Presiden-Wapres Bapak-Anak

“Perusahaan tidak boleh dipaksa membeli produk jelek. Tapi juga tidak boleh pakai alasan standar untuk menutup pintu selamanya,” ujarnya.

Ia menuntut ada target pengadaan lokal bertahap yang dibarengi pendampingan mutu, pelatihan, dan kontrak transparan. Bukan CSR seremonial bagi-bagi sembako.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *