TERNATE — Emas mengalir di Gosowong. Nikel menumpuk di Weda dan Pulau Obi. Uang triliunan masuk ke Halmahera. Tapi piring orang Maluku Utara masih diisi beras dan telur dari luar daerah.
Itulah paradoks yang disorot Dr. Muhammad Kamal dalam analisisnya. Menurutnya, Maluku Utara sedang mengalami “pertumbuhan tanpa fondasi pangan”.
Tambang Bikin Pasar Besar, Petani Lokal Malah Jadi Penonton.
Aktivitas tambang emas dan nikel telah menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di Halmahera. Ribuan pekerja, kontraktor, dan keluarga pendatang datang. Konsumsi harian meledak: beras, ikan, telur, daging, sayur, air bersih.
“Setiap pekerja membutuhkan pangan setiap hari. Itu pasar yang besar dan relatif stabil,” kata Dr. Kamal.
Masalahnya: pasar itu belum jadi milik petani, nelayan, dan peternak lokal.
Ironisnya, Maluku Utara punya lahan luas, laut kaya, dan permintaan yang terus tumbuh.
Tapi komoditas dasar justru masih dipasok dari Sulawesi, Jawa, bahkan luar negeri. Uang belanja pekerja tambang akhirnya mengalir keluar.








Komentar