oleh

Dr. Muhammad Kamal: “Maluku Utara Kaya Tambang, Tapi Impor Pangan. Ini Bom Waktu Ekonomi”

-HEADLINE-471 Dilihat

 

TERNATE — Emas mengalir di Gosowong. Nikel menumpuk di Weda dan Pulau Obi. Uang triliunan masuk ke Halmahera. Tapi piring orang Maluku Utara masih diisi beras dan telur dari luar daerah.

Itulah paradoks yang disorot Dr. Muhammad Kamal dalam analisisnya. Menurutnya, Maluku Utara sedang mengalami “pertumbuhan tanpa fondasi pangan”.

Baca Juga  HUTANG PEMPROV MALUT MENUMPUK, PIHAK KETIGA MENUNGGU: LIRA DESAK GUBERNUR SHERLY BUKA DATA DAN BERTINDAK!

Tambang Bikin Pasar Besar, Petani Lokal Malah Jadi Penonton.
Aktivitas tambang emas dan nikel telah menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di Halmahera. Ribuan pekerja, kontraktor, dan keluarga pendatang datang. Konsumsi harian meledak: beras, ikan, telur, daging, sayur, air bersih.

“Setiap pekerja membutuhkan pangan setiap hari. Itu pasar yang besar dan relatif stabil,” kata Dr. Kamal.

Baca Juga  Ekonom Pertanyakan Era Gub Sherly: Penduduk Miskin Malut 2025-2026 Naik 3 Ribuan, Ada yang Keliru dengan Kebijakan?

Masalahnya: pasar itu belum jadi milik petani, nelayan, dan peternak lokal.

Ironisnya, Maluku Utara punya lahan luas, laut kaya, dan permintaan yang terus tumbuh.
Tapi komoditas dasar justru masih dipasok dari Sulawesi, Jawa, bahkan luar negeri. Uang belanja pekerja tambang akhirnya mengalir keluar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *