Kehadiran pameran seni rupa Ukraina di Jakarta, yang diapresiasi dengan penuh kepekaan oleh para peziarah budaya. Salah satunya Syamsul Arifin (Masdjo) dari PMD dan juga Ketua DPW SWI JAYA DKI Jakarta adalah sebuah pengingat sunyi bahwa seni adalah bentuk perlawanan paling lembut terhadap kebinasaan.
Ketika kita berdiri di hadapan karya-karya kelompok seniman Pictoric, kita tidak sedang menatap sekadar objek estetika.
Kita sedang menatap cermin. Di dalam goresan-goresan itu, terangkum air mata para ibu yang kehilangan anak, kecemasan anak-anak kecil yang tumbuh tanpa sekolah, dan kerinduan yang amat sangat pada rumah yang kini tinggal nama.
Seni melampaui sekat geopolitik karena ia berbicara dengan bahasa air mata—bahasa universal yang tidak membutuhkan terjemahan.
”Dalam dunia yang semakin bising oleh kebencian dan ambisi teritorial, kebudayaan adalah benteng terakhir tempat kita mengenali wajah sesama manusia, merawat ingatan, dan menolak lupa pada mereka yang dipaksa menderita.”
Indonesia, dengan sejarah panjang pergulatan kemerdekaannya, memiliki panggilan moral yang dalam untuk tidak menjadi penonton yang dingin.














Komentar