Oleh: M. Guntur Alting
—
ADA yang sedikit mengejutkan ketika daftar peraih “Labbaytum Award 2026” diumumkan oleh Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
Nama Indonesia, “sang raksasa” penyelenggara haji dengan dua ratus sepuluh ribu (210.000) jemaah, tidak terlihat di sana.
Sementara, tetangga kita Malaysia dan Singapura—dengan jumlah jemaah yang jauh lebih sedikit—justru tampil sebagai juara.
Apakah ini sebuah kekalahan?
Mungkin terlalu cepat jika kita menyebutnya sebagai kegagalan telak. Namun, di saat yang sama, kita juga tidak bisa sekadar berlindung di balik narasi “kompleksitas jumlah”.
Dalam sebuah percakapan tentang pelayanan publik, kita sering terjebak dalam pembenaran atas skala. “Kita ini besar,” kata mereka. “Maka wajar jika ada sedikit kekacauan di sana-sini.”
Benarkah demikian?














Komentar