-00-
Sosiologi ruang mengajarkan kita bahwa semakin besar sebuah komunitas, semakin presisi sistem yang dibutuhkan. Jika kita membawa 210 ribu orang ke satu titik, maka yang kita perlukan bukan hanya kerja keras, melainkan sebuah “simfoni” manajemen yang tidak boleh memiliki nada sumbang.
Pemerintah kita, melalui Wakil Menteri Dahnil Anzar Simanjuntak, menyebut ada apresiasi dari Saudi atas perubahan signifikan yang kita lakukan.
Saya percaya itu. Saya melihat upaya-upaya “digitalisasi” yang mulai menyentuh lini-lini pelayanan kita. Tapi, di mata pemberi penghargaan, mungkin ada standar “kemanusiaan” dan “kematangan sistem” yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Mari kita lihat Malaysia. Melalui Tabung Haji, mereka tidak hanya mengelola uang, tapi mengelola “martabat jemaah.” Haji di sana bukan sekadar proyek tahunan pemerintah, melainkan sebuah ekosistem yang terawat rapi sejak seorang jemaah mendaftar hingga kembali ke rumahnya.
Tidak ada hiruk-pikuk birokrasi yang memusingkan, tidak ada kerumitan yang seharusnya bisa dipangkas oleh teknologi.
Bagi saya, “Labbaytum Award” hanyalah penanda. Sebuah cermin yang dipasang di depan wajah kita. Ia memberitahu bahwa niat baik saja tidak cukup.
Dalam dunia yang bergerak begitu cepat, di mana efisiensi menjadi mata uang utama, Indonesia harus mulai mengubah “budaya pemadam kebakaran” menjadi “budaya perencanaan”.
Kita sering sibuk mengurus hal-hal administratif yang teknis, hingga lupa pada esensi: bagaimana jemaah merasa dimuliakan sejak mereka menginjakkan kaki di tanah suci.








Komentar