Penutup: Masalahnya Bukan Nama, Tapi Rasa
Perdebatan “basement vs lantai 1” secara teknis bisa panjang. Tapi buat umat, masalahnya bukan KBBI. Masalahnya rasa: layak nggak MTQ, ajang memuliakan Al-Qur’an, digelar di ruang bawah tanah?
Klarifikasi Wagub yang dinilai “cari selamat” justru menambah luka. Alih-alih minta maaf dan evaluasi, yang keluar jurus ganti istilah.
Seperti diketahui, basemen masjid Shaful Khaerat di Ibukota Sofifi itu memiliki basemen sebagai tempat wudlu dan toilet dan ditengah nya ada sebagai ruang salat dan digunakan sebagai ruang pertemuan.
Namun untuk even sekelas MTQ, banyak pihak menilai tidak tepat digunakan sebagai venue MTQ yang mestinya terbuka.Bagi publik, idealnya Pemprov menggunakan halaman depan dengan panggung yang dekoratif sebagai lokasi utama MTQ.
”ya seperti STQN tingkat Nasional di era Gubernur AGK kan menggunakan halaman depan masjid raya dengan panggung yang mewah sehingga bisa diakses publik luas tapi kalau di basemen kan hanya peserta saja karena ruang yang terbatas jadi akses publiknya dimana padahal namanya MTQ yang kita kenal bisa disaksikan masyarakat sehingga ada Danpaknya”ujar sumber yang lain.
Pertanyaannya sekarang ke Pemprov: mau berdebat definisi, atau mau pulihkan kepercayaan umat? Karena di demokrasi, data bisa diputar. Tapi rasa kecewa umat nggak bisa di-“rebranding”.















Komentar