Dari singgasana Kie Raha, ia membuktikan bahwa darah kesultanan bisa mengalir ke nadi republik. Bahwa menjadi raja tak berarti harus menolak merdeka.
Ia sultan yang memilih jadi rakyat Indonesia.
—
4.Salahuddin Bin Talabuddin — Jubah Putih di Tengah Mesiu
Ia bukan sultan. Tak punya istana, tak punya bala tentara. Salahuddin hanya punya surban, kitab, dan suara yang bening.
Di Weda, Halmahera Tengah, ketika penjajah memaksa kerja paksa, ia mengajarkan huruf. Ketika pemuda dibungkam, ia membacakan ayat tentang manusia merdeka. Jubahnya putih, tapi kata-katanya menyalakan api.
Belanda memburunya. Rakyat menyembunyikannya. Dari langgar ke langgar, ia menanam: bahwa penjajahan bukan cuma soal tanah, tapi soal jiwa. Dan jiwa hanya bisa dimerdekakan dengan ilmu dan iman.
Ia wafat 1967, tanpa meriam, tanpa perang besar. Tapi ribuan muridnya menjadi peluru yang tak pernah padam.
Salahuddin membuktikan: pena seorang guru ngaji bisa lebih tajam dari bayonet serdadu.
—
Empat nama, satu napas Moloku Kie Raha.
Babullah membakar benteng. Nuku menantang samudra. Zainal Abidin menanggalkan mahkota. Salahuddin menyalakan lentera.
Dari istana sampai langgar, dari meriam sampai doa — mereka menulis satu kata yang sama di langit Timur: Merdeka.













Komentar