oleh

SINOPSIS : Pertunjukan Monolog Pahlawan Nasional Jejak Perjuangan Dari Moloku Kie Raha

-HEADLINE-525 Dilihat

Dari singgasana Kie Raha, ia membuktikan bahwa darah kesultanan bisa mengalir ke nadi republik. Bahwa menjadi raja tak berarti harus menolak merdeka.

Ia sultan yang memilih jadi rakyat Indonesia.

4.Salahuddin Bin Talabuddin — Jubah Putih di Tengah Mesiu

Ia bukan sultan. Tak punya istana, tak punya bala tentara. Salahuddin hanya punya surban, kitab, dan suara yang bening.

Baca Juga  Insya Allah Berkah ! Anggota DPR RI Izzuddin AlQassam Kasuba Berqurban Bersama Jurnalis Maluku Utara

Di Weda, Halmahera Tengah, ketika penjajah memaksa kerja paksa, ia mengajarkan huruf. Ketika pemuda dibungkam, ia membacakan ayat tentang manusia merdeka. Jubahnya putih, tapi kata-katanya menyalakan api.

Belanda memburunya. Rakyat menyembunyikannya. Dari langgar ke langgar, ia menanam: bahwa penjajahan bukan cuma soal tanah, tapi soal jiwa. Dan jiwa hanya bisa dimerdekakan dengan ilmu dan iman.

Baca Juga  MILAD AMPP TOGAMMOLOKA : 27 Tahun Pengabdian Rakyat dan Negeri

Ia wafat 1967, tanpa meriam, tanpa perang besar. Tapi ribuan muridnya menjadi peluru yang tak pernah padam.

Salahuddin membuktikan: pena seorang guru ngaji bisa lebih tajam dari bayonet serdadu.

Empat nama, satu napas Moloku Kie Raha.
Babullah membakar benteng. Nuku menantang samudra. Zainal Abidin menanggalkan mahkota. Salahuddin menyalakan lentera.
Dari istana sampai langgar, dari meriam sampai doa — mereka menulis satu kata yang sama di langit Timur: Merdeka.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *