Munculnya sejumlah buzzer baru sejak dua pekan terakhir memang menunjukkan sejumlah orang mendapat pekerjaan baru — meski negatif karena ingin menciptakan kegaduhan serta kekisruhan, agar perhatian rakyat menjadi lengah, atau setidaknya beralih dari masalah yang paling serius untuk dicermati agar dapat segera diperbaiki atau bahkan diatasi secara hukum, seperti banyaknya berbagai kasus dan masalah yang mengendap atau bahkan hilang dari peredaran untuk diselesaikan.
Tampaknya dari fenomena serupa inilah yang dimaksud “Operasi Kodok” yang punya tabiat melompat dari satu tempat ke tempat yang lain, lalu bersuara ngorok sekedar bunyi untuk mencari perhatian guna mengalihkan konsentrasi pengamatan banyak orang untuk dihadapi dan disikapi agar tidak sampai menimbulkan dampak terusan yang merugikan orang lain. Jadi “Operasi Kodok” yang kuat menunjukkan dalam sikap saling lapor kepada pihak Kepolisian ini pun terkesan wajar untuk dicurigai juga dilakukan oleh aparat penegak hukum sendiri guna mengatrol pencitraan dari instansinya yang ambruk karena ulah dari personil mereka sendiri yang kacau untuk menunaikan tugas dan fungsinya yang mulia untuk rakyat.
Maraknya pertambahan jumlah buzzer dalam media sosial, tidak sekedar menunjukkan bahwa media yang berbasis Internet ini telah menjadi pilihan ideal yang efektif dan efisien untuk membangun opini dan kepercayaan masyarakat yang disesatkan sehingga jadi terkena pada beban hidup yang semakin menghimpit dan lalai untuk mencermati masalah yang paling urgen untuk disikapi dan ikut memberi jalan keluar, atau setidaknya memberi kritik dan saran, seperti terhadap proses hukum yang mangkrak, baik pada tingkat penyidikan dan penyelidikan hingga proses hukum berikutnya yang terkesan dijadikan barang mainan.
“Operasi Kodok” yang ditengarai Sri Eko Sriyanto Galgendu berdasarkan “Telik Santi” sebagai bagian dari kemampuan dan kecerdasan spiritual kini sedang digulirkan oleh pihak-pihak tertentu untuk membentuk peta baru dalam perspektif geopolitik nasional yang diproyeksikan untuk tahun 2029. Karena “Operasi Kodok” akan menyasar berbagai pihak dalam upaya memperoleh tempat dan posisi strategis guna merebut opini publik yang cukup terbuka peluang melalui media sosial — apa saja bentuk dan tampilannya — untuk menggiring dan merebut suara publik yang akan ikut menentukan semua hasrat yang diinginkan dengan legitimasi publik yang dianggap sah.












Komentar