Oleh: Muslim Arbi
Hari-hari disebuah negeri yang entah berantah – rakyat kehilangan arah sementara penguasa rakus dan tamak — publik disuguhi drama politik kekuasaan yang menyesatkan. Di tengah bising media sosial, penguasa zalim, rakus, dan tamak tampil seperti “ibu peri” yang sigap melindungi rakyat. Padahal logikanya terbalik: disrupsi informasi justru membuka ruang bagi kekuasaan untuk bersembunyi di balik citra.
Rakus vs Tamak: Bukan Sekadar Kata
Sebelum masuk ke substansi, penting membedah istilah. Dalam teori politik dan etika klasik:
Rakus adalah pleonexia dalam bahasa Yunani: nafsu tak terkendali untuk memiliki lebih banyak—harta, jabatan, pujian. Aristoteles menyebutnya sebagai cacat moral yang merusak eudaimonia, kebaikan hidup bersama. Ciri: agresif, tidak sabar, melahap sebanyak mungkin.
Tamak adalah bentuk lanjutan dari rakus. Ia bukan hanya ingin banyak, tapi rela melanggar norma dan hukum demi menumpuk keuntungan. Dalam etika Kant, tamak memperlakukan orang lain sebagai alat, bukan tujuan. Ciri: licik, tidak pernah puas, menghalalkan cara.
Singkatnya: rakus = nafsu besar yang sulit dikendalikan. Tamak = serakah yang merusak tatanan.








Komentar