oleh

(TRAGEDI):JATUHNYA PESAWAT DAN CARA KITA MENULIS

Oleh : M.Guntur Alting


GUNUNG Bulusaraung siang itu berdiri kokoh dan bisu. Ia telah menyaksikan ratusan tahun manusia datang dan pergi.

Namun hari itu, ia tiba:tiba kembali bungkam. “Burung Besi” itu, ditemukan di puncaknya. Kata -kata pun menyayat. Mengingatkan bahwa yang jatuh bukan “hanya logam”. Tapi juga tubuh-tubuh yang pernah hangat, yang pernah memeluk, yang pernah berjanji.

Sementara di tempat lain ada untaian harapan dan doa dipanjatkan dari orang-orang yang dicintai seperti berikut :

“​Langit yang biasanya menjadi tempat suamiku menjemput rezeki, sore ini terasa begitu kelam.

Baca Juga  “Ela-Ela: Cahaya Iman dari Tanah Kesultanan”

Kabar dari Perbukitan Bulusaraung itu memecah kepingan hatiku. Di sana, di antara lereng terjal dan kobaran api, ada separuh jiwaku yang sedang berjuang.

​Biasanya, ia yang mengendalikan kemudi di atas awan. Namun saat ini, aku hanya bisa menyerahkan kemudi takdir kepada Sang Pemilik Semesta.

​”Ya Allah, Sang Pemilik Jiwa… Engkau Maha Mendengar detak jantung yang sedang ketakutan. Jika di sana dingin, selimutilah suamiiku dan seluruh penumpang dengan kehangatan-Mu. Jika di sana gelap, terangi mereka dengan cahaya keselamatan-Mu.”

Baca Juga  Presiden Prabowo segera saja menindak: MENKO PANGAN, MENDAG dan DIRJEN DAGLU.

​”Bawalah ia pulang kembali ke pelukanku. Berikan mukjizat-Mu untuk setiap nyawa yang sedang menanti jemputan di puncak itu. Amin”

—000—

Ini adalah ungkapan kepasrahan, doa dan jeritan hati dari Lina, istri Sang Pilot Pesawat ATR Kapten Andi Dahananto di Istana mereka (rumah) di Sorowako-Luwu Timur.

Inilah musibah yang kembali menghiasi langit Indonesia. Setelah kejadian banjir yang melanda wilayah Sumatra pada awal tahun 2026 ini.

Kini kita dikejutkan lagi dengan kabar memilukan jatuhnya Pesawat ATR 42-500 IAT di kawasan Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu, 17 Januari 2026.

Baca Juga  IRAN, "BATU SANDUNGAN" BERAT BUAT DINASTI ROTHSCHILD

Pesawat tersebut terbang dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta, dengan tujuan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Pesawat seharusnya mendarat sekitar pukul 12.20 WITA. Hingga waktu pendaratan lewat, pesawat tersebut belum tiba di Makassar dan akhirnya diumunkanlah peristiwa “naas” itu.

Pesawat ini dikenal efisien untuk rute domestik dan sering digunakan di kawasan kepulauan di Indonesia.

Duka pun menyelimuti negeri. Seluruh pemberitaan, entah itu di televisi, media sosial atau di media online beramai-ramai memberitakan hal itu.

—000—

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *