Oleh: M.Guntur Alting
Saya selalu percaya bahwa di setiap desa di Maluku Utara memiliki detak jantungnya sendiri.
Di sana, ada tradisi yang luhur, ada aroma laut yang segar, dan ada ikatan kekerabatan yang biasanya lebih kuat dari sekadar garis batas wilayah.
Namun, membaca kabar dari Patani Barat, Halmahera Tengah—tentang Desa Banemo dan Desa Sibenpopo yang tengah bersitegang—hati rasanya seperti teriris.
Ada sesuatu yang paradoks di sini. Di satu sisi, Halmahera Tengah kini menjadi buah bibir dunia karena nikelnya yang melimpah.
Orang-orang bicara tentang masa depan ekonomi global yang bergantung pada tanah ini. Namun, di sisi lain, kita masih melihat fragmen lama yang menyedihkan: orang-orang yang saling angkat senjata hanya karena percikan kesalahpahaman yang dibakar oleh provokasi.
–000–
Luka yang Berpindah ke Layar
Saya menyimak pernyataan Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Waris Agono. Beliau sangat gelisah dengan video-video yang berseliweran di media sosial. Dan kegelisahan itu sangat beralasan.
Dalam catatan perjalanan saya ke berbagai pelosok, saya melihat betapa teknologi seringkali menjadi “pedang bermata dua”.
Di tangan mereka yang bijak, ia menyambung silaturahmi. Namun, di situasi konflik, media sosial berubah menjadi laboratorium kebencian.
Video pendek tanpa konteks yang dibagikan secara massal itu seperti bensin yang disiramkan ke atas bara.
Kita seringkali terlalu cepat menekan tombol share sebelum sempat bertanya: Benarkah ini?
Siapa yang diuntungkan jika kabar ini menyebar?












Komentar