oleh

Sosio-Puasa | Hari Ke-19/20 : MENABUH SUNYI, MERAJUT SOLIDARITAS

Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan dimensi “Negosiasi Sosial” di dalamnya.

Di wilayah yang majemuk, Gendang Sahur menuntut “toleransi” yang tinggi.

Di sinilah teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead bekerja. Bunyi gendang dipahami bukan sebagai gangguan atau polusi suara, melainkan sebagai “simbol kasih sayang” dan pengingat akan kebersamaan.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari : 5/6 : DARI ALGORITMA LANGIT KE ALGORITMA DIGITAL

Masyarakat yang tidak berpuasa pun sering kali menerima keriuhan ini sebagai bagian dari “kontrak sosial” dalam hidup berdampingan di Bumi al-Mulk.

Menariknya, Gendang Sahur di Maluku Utara sering kali disisipi dengan syair lokal atau pantun-pantun jenaka.

Ini adalah bentuk ketahanan budaya. Di tengah serbuan teknologi digital dan alarm ponsel yang personal, masyarakat Maluku Utara tetap memilih cara-cara yang “berisik” namun manusiawi.

Baca Juga  RUBRIK SOSIO — PUASA : MEMBACA DENYUT MASYARAKAT DALAM LENSA SOSIOLOGI-AGAMA

Mereka lebih memilih dibangunkan oleh sesama manusia daripada oleh “algoritma mesin.”

–000–

Pada akhirnya, Gendang Sahur adalah bukti bahwa agama dan tradisi mampu menciptakan irama sosial yang harmonis.

Ia mengingatkan kita bahwa di Maluku Utara, kesalehan tidak pernah dirayakan dalam kesendirian.

Kesalehan adalah sebuah simfoni yang harus dimainkan bersama, dipukul dengan perkusi yang serempak, dan disuarakan dengan lantang, agar tak ada satu pun jiwa yang merasa kesepian, di tengah malam yang dingin.
(***)

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari Ke-12/13 : ASIDA

Cinere, 8 Maret 2026
Pukul : 22.00

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *