Salah satu kacamata yang paling relevan untuk membedah fenomena ini adalah teori Dramaturgi dari Erving Goffman.
Dalam perspektif ini, kafe di Jakarta berfungsi sebagai “panggung depan” (front stage).
Individu yang datang tidak hanya membawa rasa lapar, tetapi juga membawa identitas yang telah dikonstruksi sedemikian rupa.
Pilihan kafe, cara berpakaian, hingga bagaimana mereka menata meja sebelum azan Maghrib berkumandang adalah bagian dari impression management (pengelolaan kesan).
Tujuannya jelas: menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari kelas masyarakat yang mapan secara ekonomi, namun tetap memegang teguh nilai religiusitas.
–000–
Nilai Tanda dan Hiperrealitas
Lebih jauh lagi, pemikiran Jean Baudrillard mengenai masyarakat konsumsi memberikan kritik tajam terhadap fenomena ini.
Di kafe-kafe Jakarta, yang dikonsumsi bukan lagi sekadar kopi atau hidangan berbuka, melainkan “nilai tanda”.
Seseorang mungkin rela membayar berkali-kali lipat untuk seporsi makanan yang sama di tempat lain demi estetika yang Instagrammable.
Di sini, realitas berbuka puasa sering kali terjebak dalam kondisi hiperrealitas; momen ibadah dan kebersamaan fisik terkadang kalah penting dibandingkan representasi digitalnya di media sosial.
–000–
Ruang Ketiga dan Rasionalitas Instrumental







Komentar