Ketika banyak dari mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 2 digit, tapi pertumbuhan yang ekstraktif, dilawan dengan model pertumbuhan yang inklusif dihadirkan sangat nyata dari pesan PDRB Kota Ternate, sukses mengatasi kemiskinan terrendah se Maluku Utara, mampu mendorong pertumbuhan indeks pembangunan manusia pada basisi point yang jauh lebih tinggi dari Kabupaten/Kota Lain, Tauhid tak hanya menjadikan kota Ternate dengan IPM tertinggi, tetapi menjadi pendorong utama dari kenaikan IPM setuap tahun yang rata-rata diatas 0,75 basis point, dari 3 indikator yang diukur dalam IPM.
Satu tahun kepemimpinan kepala daerah di Maluku Utara idealnya tidak diukur dari ramai tidaknya media sosial, tetapi dari data dan fakta empiris yang disepakati secara konstitusional. Prinsip Satu Data Indonesia menegaskan bahwa rujukan utama adalah Badan Pusat Statistik (BPS). Dari sanalah kinerja pemerintahan seharusnya dibaca, diukur dan dinyatakan sukses tidaknya pembangunan itu dijalankan, kita tidak lagi menjadikan kepala daerah sebagai artis media social tetapi pelayan warga yang menyentuh hak dasar yang konsiten dan berkelanjutan.
Dari berbagai indicator yang disajikan BPS, ekonomi Kabupaten/kota di Maluku Utara yang paling inklusif tercermin dari kota ternate, hal yang sama pada pengentasan kemiskinan, dengan angka kemiskinan yang hanya 3% menempatkan Ternate kota tampa warga miskin, yang didukung oleh Usia harapan hidup yang tinggi, ditopang oleh rata-rata lama sekolah yang menjajikan, serta pendapatan perkapita yang tertinggi di Maluku Utara, menunjukan Ternate sebagai episentrum perubahan global yang inklusif yang membangun tanpa merusak alam, dan menjadikan kemampuan ekonomi Masyarakat yang tercermin dari konsumsi rumah tangga yang Tangguh, Tauhid seolah memberi pesan, membangun itu dari Dapur Rakyat, bukan dari Media Sosial













Komentar