Suara dari Ternate: Dialog Lintas Kota dengan Pemred Pikiran Ummat
Oleh : M.Guntur Alting
—
Di sebuah sudut kafe di Jakarta Selatan, deru mesin kopi dan kebisingan lalu lintas di Jalan MH Tamrin mendadak senyap saat layar ponselku menyala.
Sebuah nomor yang sangat familiar muncul. Itu adalah panggilan dari Pemred Pikiran Ummat.
“Halo…Assalamualaikum Pak Doktor. Bagaimana kabar Jakarta? ”
Suara Pak Usman Sergi Sang Pemred Media terdengar renyah, meski ada guratan keletihan khas orang media di baliknya.
“Waalaikumsalam, Bang. Jakarta masih sama, masih mengejar waktu yang tak pernah cukup he he…”–Jawabku sembari menjauh dari keramaian.
“Ada apa, Bosku? Tiba-tiba menelepon di jam-jam tenggat begini?”
“Begini,” ia memulai, nadanya berubah serius namun tetap hangat.
“Ramadan tinggal menghitung hari. Saya ingin Pikiran Ummat punya warna baru tahun ini. Saya ingin Pak Doktor menulis rubrik khusus—kita sebut saja “Sosio-Puasa”-selama sebulan penuh.”
Saya terdiam sejenak, menatap deretan gedung pencakar langit yang angkuh di hadapanku.
“Menulis setiap hari dari Jakarta untuk pembaca di Maluku Utara, Bang? Bukankah jarak ini terlalu lebar untuk membedah realitas sosial di sana?”
“Justru itu poinnya,” ia menyela cepat. “Jarak Jakarta-Ternate harusnya tidak jadi penghalang. Saya ingin Pak Doktor membedah puasa bukan hanya sebagai ritual menahan haus, tapi sebagai instrumen solidaritas sosial. Saya butuh nalar ilmiah Pak Doktor, tapi dengan hati yang tetap tinggal di Ternate.”
Ada jeda yang cukup panjang.
Di Jakarta, senja mulai turun dengan warna abu-abu polusi. Sementara di Ternate, saya tahu matahari sedang tenggelam dengan megah di balik Gunung Gamalama.
“Tiga puluh (30) hari adalah maraton intelektual yang berat, Bang,”– kataku pelan.












Komentar