oleh

Moloku Kie Raha “Muak” dengan Pertumbuhan Ekonomi

Konfigurasi ini mencerminkan apa yang dijelaskan dalam teori pembangunan, disebut sebagai pertumbuhan terkonsentrasi (concentrated growth), yaitu sebuah fenomena pertumbuhan yang bertumpu pada sektor padat modal, berorientasi ekspor, dan terintegrasi dengan rantai nilai global, tetapi memiliki keterkaitan lemah dengan kegiatan ekonomi Masyarakat lokal (Auty, 1993; Sachs & Warner, 2001).

Dalam konteks Moloku Kie Raha, ini berarti bahwa ekonomi daerah tumbuh bukan karena aktivitas produktif masyarakat pulau, melainkan karena intensifikasi ekstraksi sumber daya alam, yang dikuasai migran Tiongkok yang mengeksploitasi bumi, air dan kekayaan alam untuk kesejahteraan Masyarakat Tuongkok, sebagaimana yang dimaksud dalam konstitusi
Jika kita memotret dari sisi pengeluaran, struktur pertumbuhan Maluku Utara semakin menegaskan watak enklave tersebut. Ekspor Barang dan Jasa tumbuh 40,13 persen, yang dominasi ekspor ke Tuongkok dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 25,38 persen, sementara Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga hanya tumbuh 5,12 persen, ini menegaskan ekonomi tumbuh tapi daya beli rendah, peluang mendapatkan sumber pendapatan juga rendah, yang lebih ironis lagi ditengah pertumbuhan tingggi justru, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah mengalami kontraksi sebesar -9,12 persen, sementara Masyarakat berharap ada aliran uang pemerintah yang dapat menopang perekonomian local.

Baca Juga  KEKAYAAN, TAMBANG, DAN KEGAGALAN POLITIK PEMBANGUNAN: MEMBACA KEPEMIMPINAN GUBERNUR SHERLY TJOANDA LAOS

Dalam kerangka teori export-led growth, pertumbuhan yang digerakkan oleh ekspor memang dapat meningkatkan PDRB secara cepat, namun, tanpa keterkaitan ke sektor domestik dan mekanisme distribusi yang kuat, pertumbuhan semacam ini cenderung menghasilkan kebocoran nilai tambah dan memperlebar ketimpangan (Rodrik, 2011). Bagi masyarakat Moloku Kie Raha, fakta bahwa konsumsi rumah tangga tumbuh jauh lebih lambat daripada ekspor dan investasi menegaskan satu hal sederhana namun pahit, uang berputar di atas pulau Halmahera, tapi jatuh di tangan Tiongkok

Baca Juga  Catatan Dari Kota Pahlawan - Soeroboyo : Tak Ucapkan Bela Sungkawa Syahidnya Ali Khamenei, Muslim Arbi: Prabowo Takut dengan Amerika

Maluku Utara memiliki lebih dari 60 pulau berpenghuni, dengan total penduduk sekitar 1,37 juta jiwa. Namun, sebagian besar penduduk terkonsentrasi di Pulau Halmahera dan Kota Ternate. Pulau-pulau kecil lainnya dihuni oleh ratusan hingga beberapa ribu penduduk, dengan biaya hidup tinggi dan akses layanan publik yang terbatas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *