“Muak” dalam judul tulisan ini bukan ekspresi emosional, melainkan kesadaran kritis. Muak terhadap cara pertumbuhan ekonomi dihitung, dipresentasikan, dan dirayakan, tanpa bertanya apakah ia benar-benar memperluas kapabilitas manusia (Sen, 1999). Muak terhadap pertumbuhan ala BPS yang tinggi di atas kertas, tetapi hampa dalam pengalaman hidup masyarakat pulau.
Moloku Kie Raha tidak anti pertumbuhan. Yang ditolak adalah pertumbuhan yang menyingkirkan, pertumbuhan yang bocor, pertumbuhan yang tidak manusiawi dan pertumbuhan yang menjadikan rakyat hanya sebagai penonton. Tantangan Maluku Utara ke depan bukan lagi bagaimana mempertahankan laju pertumbuhan tinggi, melainkan bagaimana membongkar ekonomi enklave dan membangun ekonomi kepulauan yang adil, terhubung, dan berdaulat.***
Moloku Kie Raha “Muak” dengan Pertumbuhan Ekonomi






Komentar