Oleh : M. Guntur Alting
“Sebuah lingkup kesunyian yang secara perlahan dibangun, menggugah kesadaran diri. Perpaduan antara keberserahan dan kemauan dalam memaknai hidup.” (Rumi)
—
TAHUN 2026 tinggal hitungan jam. Tengah malam nanti, warga dunia akan menyaksikan kembang api meledak, membumbung ke angkasa memecah gelap-nya malam.
Terompet penanda pergeseran tahun akan ditiup dengan keras, saat jarum jam tepat menunjuk angka 00.00 –disitulah kalender 2025 berakhir. Tahun 2026 hadir manyapa masyarakat dunia.
Siklus hidup adalah jatuh bangun. Disamping sukses ada kegagalan, kekecewaan, kehilangan, kesedihan, kemarahan hingga keputus asaan. Ada keinginan yang tak terwujud, asa yang tak tergapai dan cita-cita yang tertunda.
Berbagai tantangan yang telah dihadapi sepanjang tahun. Hubungan keluarga, relasi sosial, pekerjaan, keuangan, pendidikan, hingga kesehatan. Ada yang berhasil melewati cobaan, entah dengan mulus ataupun melalui jalan terjal. Tapi banyak pula yang terantuk tembok tebal dan terpental mundur.
Namun dibalik semua yang tidak meng-enakan itu. Akan selalu ada sesuatu, sekecil apapun yang pasti bisa kita syukuri.
—000—
Saya mencatat di jurnal harian saya.Tahun 2025, sebagai tahun percikan kebangiktan kecil, setelah mengalami masa “recoveri” secara mental dan finansial.
Paling tidak ada 3 (tiga) titik kisar yang saya alami ; saat mundur sebagai pengajar di UIN Ciputat, terjun di arena politk di akhir 2020, dan meninggalkan kiprah di travel yang telah mengantarkan saya melalang buana di sekian negara.
Dari 3 (tiga) titik kisar ini, sedikit banyak memberikan dampak psikologis dan terutama finansial, setidaknya masih terasa saat ini.
Di sinilah oleh Jakob Oetama pendiri Kompas menyebut, “ibarat seorang pendaki” ada saatnya menepi, jeda, untuk memulihkan diri. Sebelum melanjutkan perjalanan.
Berikut beberapa jejak langkah yang telah saya tapaki sepanjang 2025. Yang ingin saya bagi melalui esai ini :
Pertama : saya mengawali awal tahun dengan melakukan perjalanan ke Turkey, sebagai hadiah dari perusahaan Jepang PT.Kyoko atas dedikasi Ibu Mertua saya yang telah berpulang.
Ini bukan perjalanan pertama saya di negeri penuh warna ini. Tahun 2008, saya pernah berkunjung dan menikmati indahnya wilayah “Capadocia” di ujung Turkey-yang terkenal dengan wisata balon raksasa di atas perbukitan cadas bebatuan.










Komentar