oleh

Tanpa Kebijakan Revolusioner, Tak Akan Ada Perubahan Di Indonesia

-OPINI-2141 Dilihat

Tony Rosyid : Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Saya rasa kita sepakat untuk menyimpulkan bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Kesimpulan ini menegaskan posisioning kita sebagai intelektual organik. Beda dengan intelektual tradisional yang netral dan cenderung melegitimasi penindasan yang dilakukan kaum elit, intelektual organik mengambil posisi kritis terhadap realitas Indonesia hasil warisan puluhan tahun dan turun temurun.

Apa warisan itu? Korupsi, perampasan Sumber Daya Alam, kerusakan hutan, ketimpangan sosial-ekonomi, ketidak-adilan hukum dan penindasan elit kepada kaum alit.

Penindasan tidak dilakukan secara fisik, tapi melalui pendidikan, agama, budaya dan media.

Di dunia akademik, kampus dikebiri. Dekan dipilih oleh rektor dan rektor dipilih oleh menteri. Kampus berada dalam kendali penguasa. Setidaknya, penguasa dengan mudah melakukan kontrol terhadap kampus melalui rektor dan dekan.

Era Orde Baru selama 32 tahun dipimpin Soeharto dikenal otoriter dan militeristik. Tapi, kampus lebih merdeka karena punya independensi terutama dalam pemilihan rektor dan dekan. Rektor dipilih senat universitas, dan dekan dipilih oleh senat fakultas. Menteri tidak bisa mengkoptasi rektor, dan rektor tidak bisa intervensi dekan. Sejak era Jokowi, aturan ini diubah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *