Selain kampus, media terkoptasi. Ingat ILC tutup? Media tak berkutik dan dipaksa untuk beradaptasi dengan kemauan penguasa. Melawan, maka pemilik media terancam jadi tersangka. Minimal media akan kehilangan sumber penghidupan dari iklan.
Media menjadi penyampai hasrat penguasa untuk mengorganisir logika publik agar bisa menerima apa yang menjadi kebijakan dan keputusan penguasa.
Begitu juga dengan agama. Melalui para tokoh agama dan ormas, rakyat didoktrin untuk menerima logika penguasa. Inilah yang oleh Antonio Gramsci (1891-1937) disebut dengan siatem hegemoni. Yang terjadi adalah common sense, bukan good sense. Rakyat menerima logika penguasa dan menganggap Indonesia ini baik-baik saja, tanpa daya kritis. Kritik dianggap anti mainstrem, tidak berbudaya dan radikal. Penguasa berhasil menggunakan sejumlah tokoh agama dan ormas untuk mendelegitimasi kritik publik. Kritik selalu dianggap intoleran dan anti agama.
Karena tak tahan, sebagian dipaksa beradaptasi. Siapa yang mampu beradaptasi, ia akan bertahan hidup. Itulah konsep “survival of the fittest” Herbert Spencer (1820-1903). Inisiator “social Darwinism”.
Gayatri Chakravorty Spivak (1942-sekarang), ilmuan keturunan India yang mengajar di Amerika sampai harus bertanya: “can subalterm speak?”. Subalterm adalah kaum “alit”, bukan “elit” yang tertindas oleh kebijakan negara. Termasuk mereka yang kehilangan rumah saat banjir di Sumatera. Mirip “Kaum Marhein” dalam istilah yang dibuat Soekarno. Kaum proletar (buruh) termasuk bagian dari subalterm.
Gayatri Spivak menjawab pertanyaannya sendiri: “Subalterm can not speak”. Kaum alit gak bisa bicara. Maksudnya, mereka bicara, tapi suaranya tak didengar. Mereka teriak, tapi teriakannya diabaikan oleh elit partai, politisi termasuk para anggota DPR.









Komentar