Namun, di perjalanan ini terasa spesial, karena menuju Istambul melalui Bandara Madinah setelah umroh. Keunikan lain bahwa perjalanan ini mandiri (sejenis backpacker), segala yang dijalani di tempat tujuan tidak dirancang dari awal, tapi mengalir mengikuti irama pikiran dan hati.
Perjalanan mandiri memberi ruang mengexplor obyek tanpa mengikuti aturan group travel yang kadang mempressure atau menekan.
Saya akhirnya bisa menyusuri lorong-lorong, gang-gang sempit, pasar tradisional, duduk berbaur memancing ikan dengan warga setempat. Disamping mengunjungi objek yang menjadi ikon kota Istambul seperti Aya sofia, Blue Mosque dan Top-kape.
Yang sangat saya ingat, adalah ketika menyusuri tepian selat Bosporus yang membelah 2 (dua) benua, asia dan eropa. Termasuk menaiki wilayah salju di kota Bursa.
Ada insiden yang yang tak terlupakan ketika menulusuri lorong bawah laut Istambul. Saya tiba-tiba diinterogasi oleh pihak kepolisian setempat. Terjadi adu mulut antara petugas dengan istri saya. Menurut “guide”, ada dugaan saya sebagai pendatang ilegal.
Saya sempat bingung apa indikasi yang menunjukkan saya pendatang ilegal. Masalah akhirnya selesai setelah paspor diperlihatkan.
Kedua, sepanjang 2025 saya menghasilkan 30 tulisan esai dengan ragam topik ; agama, filsafat, pendidikan, sosial, budaya politik. Hingga hal-hal yang remeh temeh. Khsusus poltik saya memotret dinamika pilgub Maluku Utara.
Terdapat juga esai-esai yang bersifat personal yang menyangkut diri, kerabat dan kolega. Hingga goresan kehilangan invidu tertentu baik tokoh, keluarga , teman maupun orang biasa. Yang terakhir dipenghujung tahun adalah esai “In Memoriam” atas kepulangan H. Ibrahim Muhammad.
Kumpulan esai ini kemudian dihimpun dalam buku yang diberi judul “Sejenak hening” yang terbit awal agustus oleh penerbit Emha Creative Bandung. Buku ini di beri catatan pengantar oleh Muhammad Asgar Saleh.
Ketiga, Saya dipetrtemukan dengan Usman Sergi, seorang Jurnalis senior sekaligus “pemred media Ummat” yang menyiapkan rubrik khusus untuk saya.
Saya diberi kebebasan untuk menulis apapun. Dan saya tak menyinyiakan kesempatan itu. Laporan perjalanan saya ke Turkey yang dipublikasikan media ini terasa sangat spesial.
Dari Beliau saya belajar banyak hal, wawasan jurnalis, ketulusan, kerendahan hati, keiklasan, kesabaran dan keteguhan .
Masih berkait dengan buku, di desember penutup tahun ini. Saya menerbitkan buku “Rindu Yang Tak Pernah Usai”. Sebuah rekaman perjalanan hidup Ibunda mertua saya (Rini Murniasih) yang meninggal di awal 2024.
Buku ini tiba di tangan saya dari penerbit di Jogjakarta tepat 3 hari menjelang tutup tahun.
Keempat, Saya diprovokasi mengikuti les musik oleh putri saya.
Niat awalnya hanya untuk menemaninya karena anjuran sekolah berasarkan minat siswa. Sebuah upaya mengasah otak kanan yang sering terabaikan. Sebagai bentuk kecerdasan (kecerdasan musik) oleh Howard Gardner dalam karya “multiple intelegensis”. Tawaran putri saya ini sangat menggoda.
Saya akhirnya mencoba. Walapun belum sepenuhnya mahir, setidaknya sudah mengusai “cord” (kunci) dasarnya, minimal telah mampu memetik “dawai” mengiringi lagu-lagu “sendu” yang saya sukai.








Komentar