oleh

Trans Kieraha: Jalan Panjang Menuju Pembangunan Hijau atau Justru Jebakan Ekstraktivisme?

-OPINI-371 Dilihat

A. Malik Ibrahim : (Majelis Dewan Pakar MW. KAHMI Malut)

Dalam narasi besar pembangunan nasional, industri nikel Indonesia diposisikan sebagai pilar utama menuju masa depan energi hijau. Pemerintah menempatkan nikel sebagai “logam strategis” untuk baterai kendaraan listrik, dan Indonesia digambarkan sebagai pemain penting dalam dunia yang semakin meninggalkan bahan bakar fosil. Di atas kertas, ini tampak seperti peluang ekonomi yang menguntungkan. Tetapi jika kita melihat dampaknya di Halmahera, terutama dengan adanya rencana pembangunan Trans Kieraha yang semakin mempermudah mobilitas industri ekstraktif, maka pertanyaan kritis pun muncul: apakah transisi energi benar-benar hijau jika dibangun di atas rusaknya hutan primer, hilangnya ruang hidup masyarakat adat, dan runtuhnya ekosistem?

Baca Juga  Deforestasi, Reforestasi, dan Trans Kieraha: Ketika Pembangunan Mengklaim Memulihkan, Namun Justru Menghancurkan

Ambisi transisi energi global membawa konsekuensi baru bagi negara kaya mineral seperti Indonesia. Nikel menjadi komoditas panas, bukan hanya karena kebutuhan baterai kendaraan listrik, tetapi karena permintaan besar dari industri teknologi. Pemerintah melihat nikel sebagai jalan cepat menuju industrialisasi dan peningkatan PNBP. Namun narasi “energi hijau” ini seolah melupakan fakta bahwa proses ekstraksi nikel di lapangan sangat jauh dari kata hijau. Penambangan nikel di Halmahera telah menghabiskan hutan, mencemari sungai, memicu konflik tanah, dan mengancam masyarakat adat O’Hongana Manyawa. Ketika kita membongkar argumentasi “nikel = masa depan hijau”, maka yang tampak justru paradoks besar: industri yang diklaim mendukung agenda iklim global ternyata melahirkan kerusakan ekologis lokal.

Baca Juga  Demokrasi Ala Buzzer, Kritik Nazla: Ketika Suara Wakil Rakyat Dibungkam oleh Riuhnya Medsos

Di titik ini, pembangunan Trans Kieraha harus dipahami sebagai bagian dari rantai besar ekstraktivisme. Pembangunan jalan ini — yang melintasi kawasan hutan primer dan wilayah adat — tidak dapat dilihat sebagai proyek netral. Jalan besar bukan sekadar penghubung antardaerah, tetapi infrastruktur strategis bagi pengangkutan alat berat, ore nikel, logistik perusahaan, dan mobilitas pekerja industri. Dengan kata lain, Trans Kieraha berfungsi seperti pembuluh darah baru bagi industri ekstraktif untuk menjangkau wilayah yang sebelumnya sulit diakses. Jika industri nikel adalah tubuhnya, maka jalan ini adalah jaringan arteri yang memperlancar seluruh prosesnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *