Oleh A. Malik Ibrahim
Ketika tutupan hutan di Indonesia terus menyusut dari tahun ke tahun, narasi pemerintah sering mencoba meredam kekhawatiran publik dengan menyebut bahwa “deforestasi menurun” atau “reforestasi meningkat”. Namun dari perspektif ekologis, klaim-klaim tersebut tidak mampu menutupi kenyataan bahwa hilangnya hutan primer membawa dampak yang jauh lebih besar daripada yang bisa dipulihkan oleh program penanaman ulang. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon; ia adalah sistem ekologis yang kompleks. Ketika hutan primer dirusak, ekosistem pecah, siklus air terganggu, dan kerentanan bencana meningkat. Dalam konteks itulah kita perlu menguliti kerusakan ekologis yang terjadi di Sumatra maupun Halmahera.
Pertama, hutan primer memiliki peran ekologis yang tidak bisa digantikan. Ia terbentuk melalui proses ratusan hingga ribuan tahun, dengan struktur bertingkat, mikroklimat yang stabil, interaksi spesies yang rumit, dan kapasitas penyangga lingkungan yang luar biasa. Deforestasi yang terjadi di berbagai wilayah, terutama yang ditunjukkan dalam laporan media tentang Sumatra dan Halmahera, bukan hanya kehilangan vegetasi, melainkan keruntuhan sebuah sistem hidup. Ketika hutan primer dibuka untuk kepentingan tambang, perkebunan, atau infrastruktur, yang hilang bukan sekadar pohon, tetapi seluruh jaringan ekologis yang menopang kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati.










Komentar