oleh

CATATAN REDAKSI : Dari Sofifi ke Dunia: Membangkitkan Kembali Kejayaan Rempah

-OPINI-1074 Dilihat

Oleh : Dapur Redaksi

Pada awal dekade 2010-an, seorang ekonom Universitas Khairun Ternate, Dr. Muchtar Adam, mengajukan gagasan yang saat itu terasa terlalu jauh: membangun industri rempah di Sofifi.
Ia menilai, selama Maluku Utara hanya mengekspor bahan mentah seperti kelapa dan cengkih tanpa industri pengolahan, nilai tambah ekonomi akan selalu bocor ke luar daerah.

Menurut Muchtar, rantai pasok pertanian yang panjang membuat petani hanya menjadi penerima harga terendah dalam sistem perdagangan. Ia mencontohkan bagaimana kelapa dari Halmahera harus dikirim ke Surabaya untuk diolah menjadi minyak.

Bagi Muchtar, solusi jangka panjang adalah memperpendek rantai distribusi dengan membangun industri pengolahan lokal yang mampu memberi nilai tambah langsung bagi petani.

Ia menegaskan bahwa negara perlu memberi perhatian yang seimbang antara industri ekstraktif seperti nikel dan industri berbasis hasil bumi seperti kelapa, cengkih, dan pala.

“Jika negara bisa menjamin industri nikel, mengapa tidak industri rempah?” ujarnya saat itu.

Gema Gagasan yang Hidup Kembali

Empat belas tahun kemudian, pada Oktober 2025, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyuarakan semangat serupa. Dalam kunjungan kerjanya ke Maluku Utara, ia menyatakan tekad menjadikan Maluku dan Maluku Utara sebagai pusat pengembangan rempah dunia.

Amran mengapresiasi berdirinya pabrik hilirisasi kelapa di Maluku Utara yang mengubah hasil panen menjadi santan dan susu kelapa. Pabrik itu disebut telah mendongkrak harga kelapa hingga 1.300 persen dan menggerakkan perekonomian petani.
Ia juga menyebutkan alokasi anggaran pertanian nasional sebesar Rp371 triliun, sebagian di antaranya diarahkan untuk memperkuat pengembangan rempah di kawasan timur Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *