oleh

MERAJUT ASA DI UJUNG SENJA – Catatan Novel ” Diana Memang Manja” Karya SBY


 

​Oleh: M.Guntur Alting

Ia tidak melupakan Ibu Ani. Ia merawat kenangan itu dengan cara yang paling mulia “mencipta.”
(Kompas).
—

​Di panggung sejarah Indonesia modern, nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lekat dengan citra ketegasan, kalkulasi yang matang, dan kedisiplinan seorang jenderal bintang empat.

Selama satu dekade memimpin Republik ini, ia adalah nahkoda yang terbiasa membaca peta turbulensi politik, mengukur risiko ekonomi global, dan meredam riak-riak sosial yang kerap menguji keutuhan bangsa.

Baca Juga  DEMI KELANGSUNGAN BANGSA, GIBRAN HARUS MUNDUR DARI KURSI WAPRES

Namun, di balik seragam militer yang pernah melekat dan jubah kekuasaan yang telah ditanggalkan, tersimpan sebuah ruang batin yang sunyi—sebuah teritori privat yang hanya bisa diakses oleh kelembutan seni.

​Ketika takdir garis tangan memanggil sang belahan jiwa, Kristiani Herrawati—yang akrab disapa Ani Yudhoyono—pada 1 Juni 2019, dunia SBY seakan kehilangan porosnya.

Baca Juga  PASCA PURBAYA: KE MANA ARAH POLITIK FISKAL PRABOWO?

Kehilangan seorang pendamping hidup yang telah membersamai liku-liku pengabdian selama hampir setengah abad meninggalkan rongga dada yang menganga.

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana seorang mantan presiden bertahan hidup, melainkan bagaimana ia merajut kembali kepingan hatinya yang berserakan di tengah kesunyian.

​Jawabannya terbentang di atas kanvas, melodi lagu-lagu gubahannya, bait puisi yang syahdu, dan kini, lewat lembaran novel terbarunya yang berjudul Diana Memang Manja.

Baca Juga  Menakar Untung-Rugi Kunjungan Prabowo di IWIP: Mengapa Pembangunan Daerah Maluku Utara Masih "Lekang" dari Pandangan?

-000-

​The Return of the Lost Artist

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *