Tapi kali ini, di bawah komando Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, pilihannya berbeda. Tidak ada opsi pasang badan untuk kawan seangkatan yang salah jalan.
Polri memilih jalan terjal: membersihkan rumah dengan menyapu lantai sampai bersih.
Kasus ini dibongkar, dibawa terang-terangan ke ranah pidana terbuka. Tidak peduli bintang di pundak ada berapa. Salah ya salah.
-000-
Pelajaran Paling Mahal: Kekuasaan dan Nalar
Ada adagium lama yang sering kita dengar: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”
Kasus penyadapan di lingkaran Istana ini adalah manifestasi paling telanjang dari adagium tersebut.
Ketika akses sandi negara bertemu dengan syahwat kekuasaan yang kotor (mens rea), yang lahir bukan lagi penegakan hukum, melainkan subversi domestik.
Negara modern dibangun atas dasar kepercayaan (trust). Ketika seorang Presiden tidak lagi bisa percaya pada sambungan telepon di ruang kerjanya sendiri, maka runtuhlah sendi-sendi republik.
Maka, apa yang terjadi di Trunojoyo malam ini bukan sekadar urusan penegakan hukum biasa.
Ini adalah momen sakral bagi kita semua untuk kembali mendaraskan nalar kewarasan.
Mafia luar negeri boleh kita lawan dengan teknologi. Tapi pengkhianat di dalam selimut?
Mereka hanya bisa dikalahkan dengan keberanian moral dan transparansi hukum tanpa pandang bulu.
Biarlah hukum berproses. Biarlah para jenderal itu mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hakim.
Sebab pada akhirnya, Indonesia jauh lebih besar daripada ambisi segelintir orang yang ingin memegang kendali lewat lubang kunci.(***)








Komentar