Oleh: Dr. Saiful Ahmad
(Mantan Pengurus KNPI, Pengamat, dan Pendiri Petani Makayoa Indonesia)
Bumi Moloku Kie Raha—tanah para sultan dan para leluhur penjaga kedaulatan rempah dunia—kini tengah menangis di atas kekayaannya sendiri. Maluku Utara, daratan yang dahulu diperebutkan oleh bangsa-bangsa Barat karena aroma cengkeh, pala, dan fulinya yang mengharumkan meja-meja istana Eropa, kini dihadapkan pada ironi sejarah yang memilukan.
Momen Hari Sumpah Pemuda 2026 ini harus menjadi tamparan keras sekaligus cermin bagi kita semua. Dulu, bangsa-bangsa asing datang merampas rempah kita dengan kapal-kapal kargo dan mesiu. Hari ini, penjajahan itu bermutasi menjadi bentuk yang lebih halus namun mematikan: eksploitasi brutal atas nama investasi dan hilirisasi pertambangan, yang mengorbankan masa depan ekologis generasi pemuda mendatang serta menghancurkan napas kehidupan rakyat sendiri.
Hilirisasi Tambang vs. Warisan Rempah: Jangan Korbankan Alam Demi Angka Di Atas Kertas
Pemerintah pusat saat ini sedang mengagung-agungkan era hilirisasi nikel sebagai mercusuar pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai pemuda dan bagian dari gerakan kemasyarakatan di Maluku Utara, kita tidak anti terhadap pembangunan atau kemajuan industri. Namun, ketika hilirisasi tambang dijalankan secara ugal-ugalan tanpa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berpihak pada keselamatan lingkungan, yang terjadi bukanlah kemakmuran, melainkan genosida ekologis.
Hutan-hutan adat digunduli, daerah aliran sungai (DAS) tercemar limbah tailing, dan daratan subur tempat tumbuhnya tanaman rempah warisan nenek moyang berubah menjadi kubangan lumpur merah. Ironisnya, di saat potensi rempah-rempah kita (cengkeh, pala, dan kayu manis) seharusnya juga mendapat perhatian serius dalam bentuk hilirisasi pertanian dan perkebunan—agar petani lokal memiliki nilai tawar global—pemerintah justru menutup mata dan lebih memilih memuja komoditas ekstraktif yang sifatnya sementara dan merusak.











Komentar