Pemerintah Pusat dan Daerah harus segera sadar: tambang akan habis dalam beberapa dekade, tetapi tanah leluhur dan warisan rempah adalah identitas yang abadi.
Ancaman Kemiskinan Baru: Kebakaran Kebun Rempah dan Apatisme Penguasa
Kehancuran ekologis ini kian parah akibat dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Berdasarkan data pantauan titik panas (hotspot) dan kejadian kebakaran hutan serta lahan (karhutla) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), ribuan hektar lahan terakar di Maluku Utara, termasuk menyasar wilayah perkebunan produktif masyarakat di Halmahera Utara, Halmahera Selatan, hingga Halmahera Timur.
Dampak dari bencana ini sangat sistemik:
a. Hancurnya Modal Utama Petani: Pohon pala dan cengkeh membutuhkan waktu 5 hingga 10 tahun untuk dapat dipanen. Ketika pohon-pohon warisan ini mati mendadak akibat kekeringan ekstrem atau hangus dilalap api, masa depan ekonomi petani ikut musnah dalam semalam.
b. Ledakan Angka Kemiskinan Baru: Hilangnya mata pencaharian utama ini memicu gelombang kemiskinan baru di pedesaan Maluku Utara. Petani yang tadinya mandiri kini terancam kehilangan daya beli, terlilit utang, dan terpaksa kehilangan kedaulatan atas tanahnya sendiri.
Namun, di mana negara ketika rakyatnya sekarat?
Sangat disayangkan dan memalukan melihat sikap apatis serta bungkamnya Pemerintah Provinsi Maluku Utara serta Pemerintah Kabupaten/Kota. Alih-alih hadir sebagai garda terdepan untuk memadamkan api, memitigasi kekeringan, dan menyalurkan ganti rugi atas kebun rakyat yang terbakar, para penguasa daerah justru terlihat sibuk dengan agenda politik elektoral dan karpet merah bagi para oligarki tambang.









Komentar