oleh

MENGENANG FENDI ABDURRAHMAN – Dari Gurabati Menuju Keabadian


Saya agak kaget karena badannya sudah proporsional (lansing) beda dengan masa kecilnya.

​Saya pernah singgah di rumahnya. Dan ia juga pernah singgah di Mareku. Dari interakasi tersebut, saya tahu bahwa gen ayahnya sebagai pebisnis dan pedagang ngalir ke Fendi.

​Kesan saya, ia sangat pintar, dan cekatan dalam hitungan dan bisnis.

​Teringat masa di Gurabati, anak seusia dia aktivitasnya adalah sekolah, sembahyang, mangaji, bermain, batobo di pantai Gurabati.

Baca Juga  Jacob Ereste : Sebab Musabab Korupsi Merajalela di Negeri Kita

​Jika ada ivent Open Gurabati Turnament.(GOT) kami dan anak-anak seusianya sangat gembira nonton bola, ada kebanggaan sebagai tuan rumah.

​Kadang juga anak se-usia dia dan seusia saya ke kebun cengkeh, pala dan ambil sayur di Samafu.Kadang juga juga kami melihat keseruan para pedagang ikan ramai berkumpul saat perahu ikan Om Samsi Ajaran (Allahu yarham) tiba.

-000-

​Jejak Waktu, Memori Kolektif, dan Ketukan Takdir

​Memori tentang Fendi Abdurrahman di tanah kelahiran, Gurabati, bukan sekadar potongan kisah tentang seorang bocah cerdas yang mengikuti lomba cerdas cermat atau gesit dalam berdagang.

Baca Juga  Akan kah Jokowi melaporkan Denny DKK dan MK ke Polisi karena telah menghina Gibran? — Oleh: Muslim Arbi /Pengamat

Lebih dari itu, ia adalah cerminan dari sebuah ekosistem sosial-kultural masa lalu—sebuah masa ketika lorong-lorong kampung, deretan pohon pala dan cengkeh, serta debur ombak pantai menjadi saksi bisu bagi tumbuhnya generasi yang dibentuk oleh kesederhanaan, kehangatan komunal, dan tempaan nilai-nilai luhur.

​Dalam sosiologi kehidupan kampung, anak-anak tidak hanya tumbuh lewat bangku sekolah formal, melainkan melalui jalinan interaksi yang erat dengan alam dan sesama.

Baca Juga  Politik Anggaran: Menjembatani Ketimpangan Pusat dan Daerah.

Fendi kecil, yang lucu dan ketajaman akalnya, mewarisi etos kerja dan kecerdasan praktis dari sang ayah.

Darah perniagaan yang mengalir deras di nadinya bukanlah sekadar bakat genetis, melainkan buah dari kebiasaan mengamati, menempa diri dalam kejujuran berdagang, dan melayani sesama warga sejak usia dini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *